Inspirasi Ramadhan 2

Created on Tuesday, 31 July 2018

Inspirasi Ramadhan 2

(Sensitivitas dan Persaudaraan)

By: Ahmad Falhan

Al-Imam al-Qurthubi ketika menafsirkan surat al Hasyr ayat: 9 telah mengikisahkan, bahwa Setelah usai peperangan Yarmuk  (terjadi pada masa Abu bakar al-Shiddiq) yang  dimenangkan oleh umat Islam, ada seorang perajurit muslim, Huzaifah al-‘Adawi berkata,” Setelah usai perang aku bergegas mencari anak pamanku di antara mayat-mayat tentara, kemudian aku menemukanya di antara orang-orang yang terluka dan hampir menemui ajalnya. Kemudian aku dekatkan ke mulutnya air, agar ia minum, akan tetapi belum sempat ia minum, terdengarlah rintihan orang yang terluka, maka anak pamanku pun menyuruh saya untuk memberikan air itu kepadanya. Aku bergegas menemuinya, yang tidak lain adalah Hisyam ibn al-‘Ash. Aku mendekatkaan air tersebut  ke mulutnya, namun belum sempat diminum air tersebut terdegar lagi suara orang yang merintih kehausan. Hisyam mememinta kepadaku untuk memberikan air itu orang tersebut. Setelah aku sampai di tempatnya, aku mendapatinya telah wafat, maka aku kembali posisi Hisyam, namun aku menemukannya telah wafat juga, kemudian aku kembali ke tempat anak pamanku, sungguh sayang diapun telah wafat.

Kisah ini menjelaskan kepada kita, begitu kuatnya persaudaraan para sahabat-sahabat Rasulullah SAW.,  sehingga jiwa dan ragapun rela dikorbankan untuk saudaranya seiman. Generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, telah melahirkan sikap dan akhlak yang sangat mulia yang susah untuk dimiliki generasi setelahnya.

Jika kita kaitkan dengan Bulan Suci Ramadhan, sebuah kesempatan bagi kita untuk menguatkan tali persaudaraan, tidak terkecuali orang-orang yang lemah (fakir miskin). Momentum ramadhan mendidik kita untuk merasakan lapar dan dahaga, agar kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita yang sedang didera kemiskinan dan kelaparan, dengan demikian akan semakin kuat rasa peduli dan sensivitas kita. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. yang berbunyi:

  كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ (صحيح البخاري(

Artinya: Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi saat ramadhan, ketika dijumpai Jibril (as), yang mengunjungi beliau setiap malam dibulan ramadhan, dan mengajarkan beliau saw Alqur’an, maka sungguh Rasulullah saw lebih dermawan dalam berbuat baik daripada angin yang berhembus” [HR. Bukhari]

Generasi awal Islam telah mengajarkan kepada kita totalitas keimanan yang dapat dijadikan tauladan bagi kita semua. Melalui bulan suci ramadhan kita dapat merealisasikannya,  sudah barang tentu pahala yang diraih berlipat-lipat ganda. Betapa indah, bulan yang baik ini, jika diikuti dengan akhlak Rasulullah SAW. dan para sahabat-sahabatnya.

 Wallahu a’lam

Jakarta, 27 Juli 2018




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia