Inspirasi Ramadhan 4

Created on Tuesday, 31 July 2018

Inspirasi Ramadhan 4 (Persatuan dan Persaudaraan)

Oleh: Ahmad Falhan Attahawi

Dalam kajian gramatikal Bahasa Arab, ada tema tentang kata kerja yang tidak sempurna (al-Fi’lu al-Naqish), atau dengan kata lain kata kerja yang kurang. Kata kerja tersebut lebih popular dengan sebutan “kaana wa akhawatuha”) (كان وأخواتها. Ibnu Malik dalam nazham alfiyahnya mengatakan,

  ………………………….                                  وَذُو تَمَامٍ مَا بِرَفْعٍ يَكْتَفِي 

Saudara-saudara Kaana yang Tam, yaitu setiap yang cukup dengan marfu’nya saja (isimnya)

وَمَا سِوَاهُ نَاقِصٌ وَالْنَّقْصُ في       فَتِىءَ لَيْسَ زَالَ دَائِمَاً قُفِي

Dan saudara kaana selain yg Tam, disebut Naqish. Sedangkan Naqish untuk lafazh “Fati-a”, “Laisa” dan “Zaala” selamanya diikuti/ditetapkan sebagai Naqish.

Kata kerja yang tergabung dalam “kaana wa akhawatuha” disebut tidak sempurna,  karena tidak dapat berdiri sempurna, kecuali harus ditambahkan khabar (yang menjelaskan), agar kalimatnya dapat dipahami oleh lawan bicara (mukhatab). Contohnya, كان محمد جالسا (Muhammad telah duduk).

 Kata jalisan sangat dibutuhkan sebagai khabar kaana,yang berarti duduk,tanpanya maka kalimatnya belum bisa dipahami. Walaupun terkadang ada yang tidak membutuhkan khabar, cukup dengan isimnya saja, contohnya,

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh,

Dari pemaparan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, saling membutuhkan antara satu sama lain. Tidak bisa berdiri sendiri, sampai kepada bahasa pun juga demikian. Semakin menjadi berarti,  jika hidup ini saling membantu dan bekerjasama.

Untuk dapat hidup dengan sempurna, semua manusia harus saling membutuhkan satu sama lain. Makanan yang kita makan,  pakaian yang kita pakai,  rumah tempat kita berlindap, tentunya tidak lepas dari peran orang lain. Tidak boleh saling menafikan wujud dan eksistensi, karena hal tersebut sudah menjadi ketentuan Allah SWT. sejak awal penciptaan alam semesta ini. Apalah jadinya bumi ini, jika tidak ada mata hari, udara atau air. Semuanya saling mempunyai keterkaitan.

Saling membutuhkan, sejatinya harus menjadi perenungan yang sangat dalam. Menjadi modal bagi kita untuk selalu mewujudkan persaudaraan dan persatuan.

Allah SWT. telah berfirman di dalam al-Quran,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Qs al Hujarat:10)

Dengan persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan, hanya karena Allah SWT., maka akan terwujud persatuan, sebagaimana telah dicontohkan oleh generasi-generasi Islam terdahulu. Dengan persaudaraan dan persatuan yang kuat dapat mencapai kejayaan peradaban Islam di timur dan di barat.

Momentum Ramadhan yang dahsyat ini, dimana rasa persatuan dan persaudaraan ummat diasah siang dan malam, tentunya harus melahirkan kerja-kerja yang luar biasa. Shaf-shaf salat menjadi lebih rapat, berbuka bersama, taraweh bersama, adalah modal yang harus kita terus kapitalisasi, untuk meningkatkan keimanan,  ketakwaan dan persaudaraan, tidak hanya di Bulan Ramadhan, akan tetapi juga di bulan-bulan selanjutnya. Semoga.

Wallahu a’lam

Jakarta, 27 Juli 2018




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia