Inspirasi Ramadhan 5

Created on Tuesday, 31 July 2018

Inspirasi Ramadhan 5 (Memperioritaskan yang Lebih Penting)

Oleh: Ahmad Falhan

Berlomba dalam kebaikan adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim,  hidup akan menjadi lebih dinamis, jika dibarengi dengan etos kerja yang tinggi namun tetap dalam koridor keimanan dan ketakwaan.

Ramadhan mendidik seorang muslim untuk lebih menghargai waktunya  dan memanfaatkannya dengan efisien. Kita dituntut untuk tidak menyia-nyiakan amal-amal sholeh yang ada di dalam bulan ramadhan. Sekecil apapun amal sholeh itu akan diberi ganjaran yang berlipat ganda. Pelajaran memperioritaskan perkara-perkara yang “lebih penting” dan “penting” harus senantiasa dijaga dalam kehidupan ini.  Seperti halnya perkara wajib, yang Allah lebih perioritaskan dari pada ibadah sunnah. Di bulan ramadhan ini kita begitu antusias mengerjakan ibadah-ibadah sunnah,  yang seyogyanya tidak malah membuat ibadah wajib menjadi terlantar. Sesuai dengan sabda rasulullah dalam Hadis Qudsi, dari Abu Hurairah ra., dia berkata,  Rasulullah SAW. telah bersabda, bahwa sesungguhnya Allah telah berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

Artinya: Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya(HR. Bukhari)

Tidaklah dinilai baik, jika ada orang yang begitu gigihnya menghidupkan malamnya dengan amalan-amalan sunnah, namun shalat subuhnya tidak dikerjakan pada waktunya. Pelajaran-pelajaran ramdhaniyah ini, betul-betul mewariskan kepada orang-orang yang beriman, untuk mampu menjadi insan-insan yang tangguh dan unggul, Yang tidak hanya memikirkan kualitas isi perut semata, Bahkan dengan pola makan  yang dilatih di bulan ramdhan ini,  dapat menciptakan cara berfikir kita yang lebih berkualitas, kerja yang dinamis, lantaran sudah terdidik dalam menghargai waktu, dan tidak menunda-nunda kebaikan, yang mungkin saja dapat hilang dari pandangan kita.

Ibnu Hisyam di dalam kitab sirahnya telah menceritakan, suatu ketika di zaman Rasulullah SAW., ada tiga orang sahabat beliau yang tidak ikut dalam perang Tabuk, yaitu Ka’b bin Malik ra., Hilal bin Muawiyah ra., murarah bin Rabi’ra..  Tentunya banyak pelajaran penting dan  berharga sekali yang dapat diambil dari kisah ini. Yaitu pelajaran untuk berkata jujur dan tidak menunda-nunda kebaikan.

Diantara ketiga orang itu, adalah Ka’b bin malik ra., sahabat yang masih muda dan energik. Namun karena beliau menunda-nunda persiapan untuk pergi ke Tabuk sampai pada waktunya beliaupun belum bergerak pergi ke Tabuk. Sehingga termasuklah beliau orang-orang yang tidak pergi ke Tabuk, sedangankan beliau tidak memiliki udzur yang dapat menggugurkan kewajibannya.

Di saat Rasulullah dan kaum muslimin kembali ke Madinah, banyak orang-orang yang berudzur dan kaum munafiqun datang kepada baginda rasul, menyampaikan berbagai alasan kepada beliau dengan bersumpah. Diperkirakan mereka yang tidak turut serta bertempur itu, sekitar delapan puluh orang lebih. Rasul pun menerima mereka dan memintakan ampunan Allah untuk mereka, dan menyerahkan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka kepada Allah.

Lain halnya dengan Ka’b bin Malik ra. dan kedua sahabat Rasul Hilal bin Muawiyah ra., murarah bin Rabi’ ra., yaitu ketika beliau (Ka’b bin Malik) menghadap Rasululullah, beliau dengan jujur mengutarakan perihal ketidak ikut sertaan beliau dalam perang Tabuk, seraya berkata, demi Allah, sesungguhya tidak ada uzur yang membuat saya tidak ikut serta berperang. Demi Allah, saya tidak berdaya sama sekali kala itu meskipun saya mempunyai peluang yang sangat longgar sekali untuk ikut berjuang bersama kaum muslimin. Kemudian Rasulullah SAW. berkata, berdirilah hingga Allah memberimu keputusan. Selang beberapa hari kemudian, Rasulullah melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan ketiga sahabatnya tersebut, kejadian ini berlangsung selama lima puluh malam lamanya,  sampai tiba waktunya, setelah shalat subuh,  di hari yang kelima puluh rasul mengumumkan kepada kaum muslimin, bahwa Allah telah mengampuni mereka, sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 118,

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (118)

Artinya: dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Al-Imam al-Thobari di dalam tafsirnya, Jamiul bayan fii Tafsiri Ayatil Quran mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan bumi telah menjadi sempit bagi mereka, yaitu mereka meraskan kesedihan dan penyesalan yang sangat dalam, karena ketidak ikutan mereka dalam jihad di perang Tabuk. Sehingga jiwa mereka terasa sempit karena mendapatkan cobaan dan hukuman yang sangat berat.

Di balik ramadhan, ada banyak faedah dan pelajaran yang harus diambil dan diamalkan, begitu juga kisah-kisah di dalam al-Quran,  ataupun perjalan hidup Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya. Kisah Ka’b bin malik ra. adalah inspirasi terbesar bagi kita, terutama di bulan Ramadan ini, untuk salalu dalam petunjuk dan bimbingan Allah SWT.

Wallahu a’lam

27 Juli 2018




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia