Kekuatan dalam Berbuat dan Berkarya

Created on Thursday, 19 April 2018

Kekuatan dalam Berbuat dan Berkarya

Oleh: Ahmad Falhan

Di dalam Al-Quran Allah SWT. berfirman

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُون وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (At-taubah:105)

Ayat ini merupakan motivasi bagi kita untuk bekerja dan berbuat, sebagai seorang mukmin, ketika kita dihadapkan dengan berbagai macam masalah, maka kita tidak perlu gentar dan goyah, lantaran sudah mendapatkan mandat dari Allah dan rasulnya. Namun dalam berbuat dan berkarya kita tetap harus berpijak pada beberapa perinsip yang akan menguatkan usaha kita, diantaranya adalah,  pertama, menanamkan cita-cita di dalam diri kita, setiap individu harus mempunyai cita-cita yang harus ia gantungkan setinggi langit, namun tidak lupa bahwa kaki kita tetap berpijak di atas muka bumi. Seorang sahabat Rasulullah SAW.  Hindun RA. pernah berkata ketika sedang bersenda gurau dengan anaknya Muawiyah bin Abi Sufyan, saya melihat bahwa anakku kelak akan menjadi seorang pemimpin besar. Di dalam sebuah syair Al-Mutanabbi pernah berkata :

إذا غامرت في شرف مروم     فلا تقنع بما دون النجوم

فطعم الموت في أمر حقير    كطعم الموت في أمر عظيم

Jika kamu bercita-cita, maka gapailah  cita-cita yang tinggi

Maka rasa kematian di saat menggapai cita-cita kecil sama dengan rasa kematiaan di saat menggapai cita-cita besar.

Setiap individu harus mempunyai cita-cita besar, maka jika dia mati, sementara dia sedang menggapai cita-cita tersebut lebih baik dari pada dia mati, sementara dia sedang menggapai cita-cita yang rendah. Rasulullah pernah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «إِنَّ اللهَ يُحِبُّ مَعَالِيَ الْأُمُورِ وأَشْرَافَهَا، وَيَكْرَهُ سَفَاسِفَهَا»(رواه الطبراني)

Artinya: Rasulullah SAW bersabda, sesungguhnya Allah menyukai perkara-perkara yang tinggi lagi mulia dan tidak menyukai yang rendah.(HR. Thabrani)

Jika kita membiasakan diri kita dengan perkara-perkara besar maka jiwa kita akan terbiasa dengannya, tidak hanya berpangku tangan, apa lagi putus asa, sementara pekerjaan-pekerjaan besar menunggu kita. Sebagaimana disebutkan di dalam hadis tadi bahwasanya Allah SWT. menyukai perkara-perkara yang mulia lagi tinggi, karena dengan hal tersebut banyak amal ibadah yang dapat dilakuakan dan bermanfaat bagi banyak manusia, tidak hanya dalam lingkup yang kecil.

Semakin besar urusan dan pekerjaan maka semakin besar pula manfaatnya bagi umat manusia. Sementara kita harus tetap bersabar dan teguh pendirian karena semakin besar urusan kita, maka akan semakin besar pula tantangan yang akan dihadapi, seperti halnya pohon, semakin tinggi batangnya, maka akan semakin kencang angin yang menerpanya. Yang kedua, memiliki karakteristik dan keistimewaan. Setiap individu pastilah mempunyai keistimewaannya masing-masing. Seseorang mungkin memiliki kelemahan dalam zona tertentu, namun bisa jadi dia unggul dalam zona yang lain, seperti halnya rasulullah tidak meragukan lagi kejujuran seorang Abu Dzar al-Ghifari, bahkan rasul mengatakan tidak ada yang lebih jujur dari Abu Dzar, baik di bumi dan di langit, akan tetapi ketika beliau bertanya kepada rasul tentang kepemimpinan, maka rasul menjawab, sesungguhnya engkau adalah laki-laki yang lemah, sedangkan menjadi pemimpin itu adalah amanah, di akhirat nanti bisa menjadi sebab kehinaan dan penyesalan, kecuali bagi orang-orang yang betul-betul dapat melaksanakan amanahnya sebagai pemimpin.

Dalam kesempatan yang lain ketika umat Islam baru hijrah ke kota Madinah, Rasulullah SAW. memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan adzan, karena rasul melihat keistimewaan pada Bilal yaitu meiliki suara yang panjang dan jauh jangkauannya. Demikianlah rasulullah dapat melihat keistimewaan para sahabatnya dan menugaskan mereka sesuai dengan kapasitas kemampuan mereka. Sayyiduna Ali bin Abi Thalib pernah berkata pula, “Sesungguhnya di antara para sahabatku, ada di antara mereka yang aku berharap jika mereka berdoa Allah langsung mengabulkan doa mereka, karena kesalehan dan ketakwaan yang ada pada diri mereka, dan diantara mereka ada yang tidak aku terima kesaksian mereka, karena lemah dan kurang  teliti”. Bahwasnya di antara manusia ada yang memiliki kelebihan tertentu namun lemah dalam bidang yang lain. Hanya orang-orang yang mengetahui keistimewaannya, jika mereka berkarya dan berbuat akan memiliki prestasi gemilang dan melampaui orang lain.

Yang ketiga, selalu konsisten dalam menepati janji dan menghargai waktu. Orang di barat mengatakan waktu itu lebih berharga dari emas, sementara di timur, orang-orang mengatakan waktu itu adalah kehidupan, jauh lebih penting dari emas, akan tetapi orang-orang di barat  lebih menghargai waktu, karena mereka mengetahui dan menyadari begitu berharganya waktu, sehingga Allah SWT. dalam al-Quran surat al-Ashar (103:1) bersumpah dengan waktu, dan menyatakan bahwa semua manusia itu merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh dan saling menasehati untuk berbuat kebaikan dan sabar (103: 2,3,4). Dalam ayat yang lain Allah SWT. memuji Nabi Ismail As. akan kejujuran dan komitmennya dalam menepati janji,

وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولًا نَبِيًّا

Artinya : Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam Al Quran. Sesungguhnya ia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi( QS. Maryam: 54).

Di dalam ayat ini Allah SWT. menegaskan bahwa Nabi Ismail adalah hamba Allah yang jika berjanji, dia selalu menepatinya dan tidak pernah mengingkarinya. Akhlak salah seorang nabi Allah yang patut dicontoh oleh umat manusia, terutama oleh orang-orang mukmin. Rasulullah SAW. sudah menegaskan hal tersebut di dalam sabdanya, bahwa salah satu tanda orang munafik itu adalah, jika dia berjanji selalu mengingkari.

Seorang mukmin sejati yang memiliki cita-cita dan harapan yang besar, haruslah menepati janji dan menghargai waktunya seperti yang dilakukan oleh  ulama-ulama kita dahulu. Al- Hafidz al-Sakhawi, seorang tokoh ulama mazhab Hanafi pernah mengatakan, bahwa jika seseorang berjanji untuk melakukan sesuatu dan bertekad untuk menepatinya, lalu ada udzur yang menghalanginya untuk menepatinya, maka tidaklah orang ini dikatakan munafik, namun sebaliknya jika dia bertekad tidak menepatinya tanpa ada udzur apapun, barulah orang ini dapat dikatagorikan memiliki ciri orang munafik.

Perinsip yang terakhir yang harus dimiliki oleh orang-orang yang bercita-cita besar dalam berbuat dan berkarya adalah kesungguhan dan profesionalisme. Yaitu berbuat sesuatu dengan sebaik-baiknya dan penuh kesungguhan. Allah SWT. telah berfirman di dalam al-Quran mengenai profesionalisme dalam berbuat dan bekerja,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ(الملك: 2)

Artinya: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun (al-Mulk: 2).

Suatu ketika Rasulullah pernah melihat seorang laki-laki yang shalatnya kurang sempurna, tergesa-tergesa dan banyak sekali bergerak, maka beliau memerintahkannya untuk mengulangi shalatnya.  Rasulullah SAW. benar-benar mengajarkan kepada kita untuk berbuat dan beribadah dengan sebaik-baiknya,  agar diterima oleh Allah SWT., tidak hanya pada ibadah mahdoh saja, akan tetapi dalam semua aktifitas kita di dunia ini, yang jika kita niatkan untuk Allah SWT. semata akan bernilai ibadah dan menjadi jembataan bagi kita untuk menuju syurga Allah SWT.. Sejauhmana kesungguhan seorang hamba, maka sejauh itu pula Allah SWT. akan mencintainya. Seorang penyair Arab al- Mutanabbi pernah berkata,” Saya tidak pernah melihat kekurangan atau aib pada manusia,  kecuali orang  yang mampu untuk berbuat lebih besar namun dia tidak melakukannya dan menyerah pada keadaan. Selagi kita mampu, sangat merugi jika kita tidak menghiasi kehidupan kita ini dengan perbuatan dan karya-karya besar kita, agar dapat lebih bermanfaat bagi umat manusia, seperti yang pernah dikatakan oleh Chairil Anwar dalam potongan syairnya,”sekali berarti sudah itu mati”.

Jakarta, 28 Februari 2018




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia