Kejujuran

Created on Tuesday, 26 December 2017

Kejujuran

falhan

Oleh: Ahmad Falhan, Lc., MA

Di dalam kitab Mukhtashar Minhajul Qashidin yang ditulis oleh Ibnu Qudamah al-Maqdisi,  disebutkan bahwa kejujuran itu dibagi menjadi beberapa bagian, pertama, jujur dalam perkataan, sebagaimana dalam shalat, kita selalu berdoa ,

إني وجهت وجهي للذي فطر السموات والأرض حنيفا مسلما وأنا من المسلمين

Kalimat-kalimat ini adalah persaksian manusia di hadapan Allah SWT. bahwasanya akan selalu berserah diri kepada Allah SWT.. Semua perbuatan kita di dunia ini hendaklah bernafaskan ibadah. Orientasinya semata ikhlas karena Allah SWT., sementara kalau hati kita selalu sibuk dengan dunia maka sesungguhnya  kita telah  berbohong, janji  hanya sampai di bibir saja, tidak diaplikasikan dengan perbuaatan, sedangkan iman itu hendaklah menghujam ke dalam hati, lalu diucapkan dan diaplikasikan. Yang kedua, jujur dalam niat dan keiginan. Di antara tanda kejujuran itu adalah tenangnya hati dan tanda kedustaan adalah kebimbangan. Kejujuran itu adalah ketentraman  dan kedustaan adalah

keragu-raguan.

Sedangkan yang ketiga, jujur dalam tekad dan menepatinya, contohnya ketika seseorang berjanji dalam dirinya, jika Allah menganugrahkan kepadanya harta, maka ia akan menginfakkannya di jalan Allah, janji tersebut bisa jadi benar adanya atau masih diliputi oleh keragu-raguan.

Merupakan kewajiban kita untuk tidak menunda-nunda kebaikaan yang hendak dilaksanakan, karena hawa nafsu selalu membuat kita terlena dan terbelenggu dalam bujuk rayu setan. Di dalam sebuah hadis rasulullah telah bersabda :

حَدَّثَنَا آدَمُ حَدَّثَنَا شُعْبَةُ حَدَّثَنَا مَعْبَدُ بْنُ خَالِدٍ قَالَ سَمِعْتُ حَارِثَةَ بْنَ وَهْبٍ قَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ تَصَدَّقُوا فَإِنَّهُ يَأْتِي عَلَيْكُمْ زَمَانٌ يَمْشِي الرَّجُلُ بِصَدَقَتِهِ فَلَا يَجِدُ مَنْ يَقْبَلُهَا يَقُولُ الرَّجُلُ لَوْ جِئْتَ بِهَا بِالْأَمْسِ لَقَبِلْتُهَا فَأَمَّا الْيَوْمَ فَلَا حَاجَةَ لِي بِهَا (رواه البخاري)

Telah menceritakan kepada kami [Adam] telah menceritakan kepada kami [Syu'bah] telah menceritakan kepada kami [Ma'bad bin Khalid] berkata; Aku mendengar [Haritsah bin Wahab] berkata; Aku mendengar Nabi Shallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Bershadaqalah, karena nanti akan datang kepada kalian suatu zaman yang ketika itu seseorang berkeliling dengan membawa shadaqahnya namun dia tidak mendapatkan seorangpun yang menerimanya. Lalu seseorang berkata,: "Seandainya kamu datang membawanya kemarin pasti aku akan terima. Adapun hari ini aku tidak membutuhkannya lagi". (HR. Bukhari).

Ada beberapa pelajaran yang dapat kita ambil dari hadis ini, di antaranya adalah bersegera dalam berbuat  kebaiakan dan tidak menunda-nundanya, karena suatu saat bisa jadi kita tidak akan dapat lagi melaksanakanya, Maka dari itu rasul memerintahkan kita bershadaqah, karena akan datang suatu masa dimana manusia tidak ada lagi yang mau menerima shadaqah kita, karena tidak membutuhkannya lagi.

Selagi masih banyak pintu-pintu kebaikan yang terbuka hendaklah kita bersegera memasukinhya, tidakkah kita ingin mendapatkan janji Allah, yaitu surga seluas bumi dan langit dan sesungguhnya Allah SWT. pasti akan menepati janjinya. Allah SWT. berfirman di dalam surat Ali Imran ayat 133:

وَسَارِعُوٓاْ إِلَىٰ مَغۡفِرَةٖ مِّن رَّبِّكُمۡ وَجَنَّةٍ عَرۡضُهَا ٱلسَّمَٰوَٰتُ وَٱلۡأَرۡضُ أُعِدَّتۡ لِلۡمُتَّقِينَ ١٣٣

 Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa ( QS.Ali Imran:133).

Yang keempat, jujur dalam amal dan perbuatan. Apa yang tersembunyi di hati seseorang hendaklah sesuai dengan apa yang diperbuat dan dilakukan. Di dalam al-Quran sangat jelas sekali disebutkan bahwa salah satu sifat orang munafik itu adalah jika mereka bertemu dengan orang-orang yang beriman, mereka berkata kami telah beriman, lain lagi jika berkumpul dengan orang-orang kafir, maka mereka berkata kami bersama kalian. Ibnu Qayyim al-Jauziyyah pernah mengatakan, bahwa orang-orang munafik itu jika kamu melihat mereka beribadah seakan-akan mereka lebih khusyuk dari pada kamu, padahal di dalam hatinya berbeda, hanya ingin mendapatkan pujian manusia belaka. Yang kelima, jujur dalam berbagai kondisi keagamaan. Ini merupakan derajat yang paling tinggi, seperti jujur dalam rasa takut, mengharap, zuhud, ridla, cinta, tawakal dan lain-lainnya.

Semua masalah ini memiliki prinsip-prinsip yang menjadi dasar digunkannya berbagai istilah tersebut, yang juga mempunyai tujuan dan hakikat. Orang yang jujur dan mencari hakikat, tentu akan mendapatkan hakikat itu. Allah SWT. berfirman:

إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ بِٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ ثُمَّ لَمۡ يَرۡتَابُواْ وَجَٰهَدُواْ بِأَمۡوَٰلِهِمۡ وَأَنفُسِهِمۡ فِي سَبِيلِ ٱللَّهِۚ أُوْلَٰٓئِكَ هُمُ ٱلصَّٰدِقُونَ ١٥

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar (al-Hujurat:15)

Ketika seseorang menyatakan di dalam dirinya bertawakal kepada Allah, maka tawakal tersebut haruslah mencapai derajat sesungguhnya, setelah berusaha maksimal, kemudian dia bertawakal kepada Allah, hanya kepadaNya, bukan kepada makhluknya. Total berserah diri dan bertawakal kepada Allah SWT.. Begitu pula rasa takut kita kepada Allah, harus betul-betul jujur dari dalam jiwa kita, tanpa dirusak oleh rasa takut kepada makhluk, sejenis penguasa dan lain-lainnya. Hal demikianlah yang menjadi dasar para generasi-generasi awal Islam sehingga mereka dapat menegakkan panji-panji Islam di atas muka bumi ini. Kekuatan inti bukan pada alat ataupun sarana dan jumlah, akan tetapi pada kejujuran dan kesungguhan dalam menjalankan amanah yang telah diberikan.

Suatu ketika Sayyidina Umar berhasrat ingin melihat pedang milik Amru ibn Ma’di karib (al-Shamshamah) yang terkenal itu. Pada suatu kesempatan Amru ibn Ma’di karib berkata kepada Sayyidina Umar, wahai amirul mukminin, aku telah mendengar bahwa engkau berhasrat untuk melihat pedang milikku. Maka Umar pun melihat pedang tersebut dan membolak-baliknya, seraya berkata, wahai Amru ibn Ma’di karib, aku tidak melihat sesuatu yang luar biasa dari pedang milikmu ini, layaknya seperti pedang-pedang yang lainnya. Amru ibn Ma’di karib pun berkata, wahai amirul mukminin, sesungguhnya kekuatan itu bukan pada pedang ini, akan tetapi ada pada lengan orang yang menggunakannya. Pedang ini tidak aka ada banyak manfaatnya pada orang yang penakut, berbeda jika digunakan oleh seorang mujahid yang gagah berani, mengharapkan syahadah di medan peperangan. (wallahua’lam bil shawab).  




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia