Kasih Sayang Tanpa Batas

Created on Tuesday, 12 December 2017

 

Kasih Sayang Tanpa Batas

Oleh: Ahmad Falhan, Lc., MA (Dosen STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah)

falhan

 

Di dalam al-Quran surat al-Anbiya 107  Allah SWT. berfirman tentang misi diutusnya Rasulullah adalah rahmat bagi alam semesta

وما أرسلناك إلا رحمة للعامين

Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam (QS. al-Anbiya: 107). Kata al-alamin bermakna  semua ciptaan Allah, tanpa terkecuali.  Rasulullah SAW. diutus membawa keberkahaan, mengeluarkan manusia dari kehinaan menuju kebahagian dunia dan akhirat.

Al-Razi dalam tafsir kabirnya menyatakan

rahmat yang dibawa Nabi Muhmmad SAW. mencakup semua ummat manusia, dan barang siapa yang mengikuti ajaran beliau pastilah akan mendapatkan rahmat Allah di dunia dan akhirat. Bahkan terhadap musuh-musuh Islam, beliau selalu mendoakan agar kelak mendapat hidayah dari Allah SWT.. Pernah suatu ketika para sahabat berkata kepada Rasul, tidakkah engkau mendoakan orang-orang kafir yang telah menyiksa dan menyakitimu itu, wahai baginda Rasul, maka beliau menjawab sesungguhnya aku diutus sebagai pembawa rahmat, bukan sebagai pelaknat.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قِيلَ: يَا رَسُولَ اللهِ ادْعُ عَلَى الْمُشْرِكِينَ قَال: إِنِّي لَمْ أُبْعَثْ لَعَّانًا، وَإِنَّمَا بُعِثْتُ رَحْمَةً)رواه مسلم)

Dari Abu Hurairah beliau berkata, bahwa Rasulullah pernah ditanya, wahai baginda rasul, tidakkah engkau mendoakan orang-orang musyrik agar mereka dihancurkan. Rasulullah berkata: Sesungguhnya aku tidak diutus sebagai pelaknat, akan tetapi diutus sebagai pembawa rahmat (HR. Muslim)

Hal demikianlah yang membedakan antara misi Nabi Muhammad dengan nab-nabi sebelumnya, yaitu Allah SWT. menunda azab yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendurhakai Allah dan Rasulnya, seperti yang terjadi pada kaum-kaum sebelum diutusnya Nabi Muhammad, semisal kaum ‘Ad, Tsamud yang Allah hacurkan dan binasakan mereka dengan petir dan angin yang dahsyat, atau kaum Nabi Luth, yang melakukan penyimpangan seksual (menyukai sesama jenis). Allah congkel bumi mereka dengan satu sayap Malaikat Jibril saja, sehingga terangkatlah ke langit, lalu malaikat Jibril balik kampung mereka bagian atas kebawah, begitupun sebaliknya dan menghempaskannya kembali ke bumi disertai hujan batu yang disepuh di neraka. Sampai sekarang kita masih dapat menyaksikan bukti-bukti tersebut di sekitar laut mati (di daerah Yordania). Para pakar Geologi pernah meneliti daerah tersebut dan menyimpulkan bahwa pernah terjadi gempa dahsyat di tempat tersebut, sebagaimana pula dikisahkan dan disebutkan di dalam al-Quran surat al hijr ayat 72-74


لَعَمْرُكَ إِنَّهُمْ لَفِي سَكْرَتِهِمْ يَعْمَهُونَ ، فَأَخَذَتْهُمُ الصَّيْحَةُ مُشْرِقِينَ ، فَجَعَلْنَا عَالِيَهَا سَافِلَهَا وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ حِجَارَةً مِنْ سِجِّيلٍ

Artinya: “Sungguh mereka terombang-ambing dalam kemabukan mereka (kesesatan). Maka mereka dibinasakan oleh suara keras ketika matahari akan terbit. Maka Kami jadikan bagian atas kota itu terbalik ke bawah dan Kami hujani mereka dengan batu dari sijjil.” (QS. Al-Hijr [15]: 72-74).

            Masih banyak lagi manusia-manusia yang Allah binasakan karena keangkuhan dan kedurhakaan mereka, dan tentunya datangnya azab-azab Allah tersebut setelah seruan yang panjang dan lama. Berbeda dengan umat-umat sebelumnya, Nabi Muhmmad diutus sebagai rahmat yang dikaruniakan kepada sekaliaan alam semesta, atau di dalam bahasa hadits disebut,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ: إنما أنا رحمة مهداة

Dari Abu Hurairah Ra., beliau meriwayatkan dari Nabi Muhmmad SAW., bahwasanya beliau telah bersabda:  Aku ini hanya rahmat yang dikaruniakan dan dihadiahkan (HR. al-Darimi dan Baihaqi)        

Ketika Rasulullah SAW. mendapatkan penentangan dan penolakan yang sangat keras sekali dari orang-orang Thaif, bahkan menyakiti fisik beliau, maka Malaikat Jibril berkata kapada Nabi Muhammad agar memerinthkan maalaikat jibal (gunung-gunung) agar menimpakan gunung kepada mereka, namun Nabi Muhmmad menolak lantaran kasih sayang yang Allah telah titipkan di dalam jiwa raga beliau, bahkan ketika orang-orang Thaif itu melempari Rasulullah dengan batu maka satu tangan beliau menahan batu dan satunya lagi beliau angkat saraya berdoa, agar kelak mereka dan anak keturunan mereka beriman kepada Allah SWT..

Dalam peristiwa Thaif tersebut Nabi Muhammad tidak sama sekali gagal dalam dakwahnya, beliau telah menunjukkan kesabaran yang luar biasa, yang mungkin tidak akan dapat diakukan oleh manusia manapun. Sebuah prestasi yang sangat besar di dalam dakwah dan Allah angkat derajat beliau dengan mengkaruniakan isra dan mi’raj, sebuah perjalanan suci dari masjidil haram ke masjidil Aqsha lalu naik ke Sidratul Muntaha, seakan-akan Allah ingin lebih mengukuhkan lagi posisi dakwah Rasulullah SAW. dan kemuliaan umat beliau dengan disyariatkannya shalat lima waktu, betapa tidak, hanya ibadah inilah yang pensyariataannya langsung di langit ketika beliau mi’raj ke Sidratul Muntaha. Oleh-oleh yang dibawa oleh Nabi Muhammad tersebut merupakan bentuk dari rahmat yang Allah utus beliau dengannya. Selama lima waktu kita dapat terus memadu kasih dengan pencipta alam semesta ini, Zat yang telah memberikan nikmat dan hidayahnya kepada kita semua.

Tentunya ada banyak lagi bentuk rahmat yang ada dalam misi kenabian Nabi Muhammad SAW., sebut saja rahmat beliau di dalam ibadah muamalah. Rasulullah SAW. bersbda :

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:  الساعي على الأرملة والمسكين كالمجاهد في سبيل الله أو القائم الليل والصائم النهار (رواه البخاري) 

Dari Abu Hurairah Ra., beliau berkata bahwa Rasulullah SAW. telah bersbda: Orang yang membantu wanita-wanita janda dan orang miskin itu bagaikan seorang mujahid di jalan Allah atau seperti orang yang mendirikan shalat malamnya dan puasa di siang harinya (HR. Bukhari)

Sementara di hadis yang lain Rasulullah juga bersabda:

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: إني أحرج عليكم حق الضعيفين, اليتيم والمرأة (رواه الحاكم)

Dari Abu Hurairah Ra., beliau berkata bahwa Rasulullah SAW. telah bersbda: Aku sangat menekankan sekali hak dua golongan yang harus dipenuhi, yaitu hak anak yatim dan wanita (HR. al-Hakim) 

Bukan hanya manusia yang dapat merasakan rahmat yang dibawa oleh Nabi Muhammad, hewan juga mendapatkannya seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.,

والشاة إن رحمتها رحمك الله  (رواه أحمد, والبزار, والطبراني)

Dan domba pun jika engkau menyanginya, maka Allah SWT. akan menyayangimu (HR. Ahmad, al-Bazzar dan al-Thabrani).

Sementara rahmat yang abadi di dalam misi kenabian Muhammad adalah kasih sayang Allah SWT. di akhirat kelak, pada saat tidak ada lagi faedahnya penyesalan dan tangisan. oleh karena itulah Nabi menyeru manusia kepada cahaya keimanan, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan dan kejahiliaan. Menyelamatkan mereka dari azab yang pedih. Al-Razi dalam tafsir kabirnya meyatakan arti dari kaffatan di dalam surat saba’ ayat 28 adalah Nabi Muhammad diutus sebagai penghalang yang jitu terhadap manusia agar tidak melakukan kedurhakaan.

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا كَآفَّةٗ لِّلنَّاسِ بَشِيرٗا وَنَذِيرٗا وَلَٰكِنَّ أَكۡثَرَ ٱلنَّاسِ لَا يَعۡلَمُونَ

Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui( saba’ 28)

Kita pun tidak mengetahui dari arah mana rahmat Allah itu akan datang kepada kita, oleh karenanya jangan sekali-kali kita menutup pintu kebaikan, sekecil apapun bentuknya. Jika kita mendapatkan celah untuk berbuat baik, hendaklah kita segerakan, kalau bukan hari ini kapan lagi! Selagi Allah masih memberikan waktu dan kesempatan.  (wallahu a’lam bil shawab).

Jakarta 11 Desember 2017

  




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia