Mendeteksi Kebaikan dan Dosa

Created on Monday, 08 August 2016
Mendeteksi Kebaikan dan Dosa
by: Ahmad Falhan, Falhan Attahawi
Pada bulan haji beberapa tahun silam, tepatnya di penghujung tahun 2005, banyak mahasiswa timur tengah yang menjadi petugas haji. Kebetulan pada saat itu saya dan sebagian kawan-kawan mendapatkan tugas di daerah kerja Madinah. Banyak tugas yang kami lakukan dari yang besar sampai yang kecil, diantaranya adalah membawa jamaah haji yang tersesat ke tempat pemondokan mereka. Tugas ini kami lakukan hampir setiap hari, biasanya selesai shalat Maghrib atau Isya di Masjid Nabawi. Setiap kali kami melihat jamaah yang kebingungan, langsung kami tanya dan kami ajak masuk ke mobil yang kami gunakan untuk mengantar jamaah yang tersesat di jalan. Terlihat dari raut muka mereka rasa gembira yang luar biasa setelah sampai ke penginapan mereka. Tentunya pekerjaan ini adalah sangat mulia, yang merupakan bentuk dari sebuah kebaikan, sebagaimana disampaikan oleh baginda Rasul di dalam hadis beliau, “kebaikan itu adalah akhlak yang baik”,
وَعَنْ اَلنَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ اَلْبِرِّ وَالْإِثْمِ؟ فَقَالَ: اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخلقِ, وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ اَلنَّاسُ )أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ(
Dari An-Nawwas bin Sam'an radiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam, Beliau bersabda: "Kebaikan adalah akhlak yang baik sedangkan dosa adalah apa yang terlintas di jiwamu tetapi kamu benci/takut diketahui oleh orang lain", (HR. Imam Muslim).
Di dalam hadis ini Rasulullah SAW. mengajarkan kepada kita untuk mendeteksi dini apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah merupakan kebaikan atau sebaliknya. Beliau menyatakan kebaikan itu adalah akhlak yang baik, bahkan di dalam hadis yang lain beliau juga bersabda:
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا
عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ مَعْرُوفٍ صَدَقَةٌ
Dari Jabir bin Abdillah radiallahu 'anhuma dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam, Beliau bersabda:bahwa: “setiap kebaikan itu adalah shadaqah”,(HR. Bukhari). Sampai hal-hal yang kecil, misalnya menyingkirkan duri di tengah jalan, menaruh sampah pada tempatnya atau murah senyum kepada kawan atau saudara kita. Banyak hal yang dapat kita lakukan dalam kerangka menafsirkan penggalan hadis Rasulullah tadi mengenai kebaikan.
Suatu ketika di zaman Rasul dan para sahabat dahulu, kaum Muhajirin pernah mengatakan kepada Rasul, bahwa orang-orang Anshar yang kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang berada dapat meraih banyak pahala. Mereka puasa seperti kami berpuasa dan shalat seperti kami shalat, mereka mampu bershadaqah dengan kelebihan harta mereka, sementara kami tidak mampu melakukannya. Maka Rasul pun mengatakan bahwa, sesungguhnya di setiap tasbih itu ada shadaqah, begitu pula takbir dan tahmidmu juga adalah shadaqah, mengajak kepada kebaikan dan melarang dari kemungkaran adalah shadaqah, bahkan melayani istri atau suami juga ada nilai shadaqah. Banyak hal yang dapat dilakukan seorang hamba dalam mengimplementasikan nilai-nilai keshalehan di dalam kehidupan ini, sehingga shadaqah dalam bentuk materi pun dapat ia ganti, jika tidak mampu melakukannya.
Seperti halnya juga dengan dosa, semestinya seorang hamba sudah dapat merasakan dan menimbang layak tidaknya sebuah perilaku atau perbuatan. Ketika seorang hamba melakukan perbuatan yang tidak baik, maka akan terlintas di hatinya perasaan berdosa, dan enggan diketahui orang lain apa yang dia telah perbuat. Kecuali orang-orang yang hati mereka tidak sehat atau mati, apabila diajak untuk berbuat kebaikan, mereka enggan untuk menjawabnya dan apabila berbuat dosa atau keburukan tidak tergores hati mereka dan tidak pula menyesal.
Untuk mendeteksi dini layak tidaknya sebuah perbuatan, Rasulullah telah menyatakan di dalam sebuah hadits, bahwasanya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas dan di antara keduanya adalah perkara syubhat (remang-remang). Bahkan Rasul pun telah memerintahkan kita untuk meninggalkan perkara-perkara mubah yang tidak bermanfaat, karena ditakutkan akan menjadi haram jika terus dilakukan. Pada dasarnya pangkal mulanya adalah hati, seperti yang disabdakan oleh Rasulullah SAW.,
Dari An Nu’man bin Basyir radhiyallahu ‘anhuma, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” (HR. Bukhari).
Imam Ghazali di dalam kitab Ihya ulumuddin menggambarkan, bahwa hati itu bagaikan raja yang dipatuhi dan diikuti. Maka hati harus bersih dan baik agar menjadi panutan dan teladan bagi seluruh anggota tubuh yang lain. Jika raja yang diikuti tidak baik bukan tidak mungkin akan menjerumuskan para pengikutnya. (Wallahu a’lam bil shawab)



©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia