YANG TERLUPAKAN DALAM BIMBINGAN MANASIK HAJI & UMRAH.

ust sofwan

YANG TERLUPAKAN DALAM MANASIK HAJI & UMRAH. (edited)

HM Sofwan Jauhari Lc, M.Ag, ASPM.[1]

Sepanjang perjalanan karir saya menjadi menjadi Pembimbing Haji & Umrah atau Certified Tour Leader, khususnya dalam perjalanan haji tahun 2017 ini saya mencatat beberapa hal yang menurut saya penting, tetapi pada umumnya tidak disampaikan oleh para ustadz dalam manasik haji ataupun umrah.  Catatan ini saya sumbangkan untuk para pembimbing, pengusaha tour and travel, pemimpin KBIH dan semua jamaah haji Indonesia agar kiranya menjadi sumbangan ilmu yang bermanfaat.

Harapan saya adalah, dalam acara manasik umrah, apalagi manasik haji, catatan saya ini bisa menjadi salah satu silabus manasik umrah/haji di masa mendatang :

Read more...

Mendeteksi Kebaikan dan Dosa

Mendeteksi Kebaikan dan Dosa
by: Ahmad Falhan, Falhan Attahawi
Pada bulan haji beberapa tahun silam, tepatnya di penghujung tahun 2005, banyak mahasiswa timur tengah yang menjadi petugas haji. Kebetulan pada saat itu saya dan sebagian kawan-kawan mendapatkan tugas di daerah kerja Madinah. Banyak tugas yang kami lakukan dari yang besar sampai yang kecil, diantaranya adalah membawa jamaah haji yang tersesat ke tempat pemondokan mereka. Tugas ini kami lakukan hampir setiap hari, biasanya selesai shalat Maghrib atau Isya di Masjid Nabawi. Setiap kali kami melihat jamaah yang kebingungan, langsung kami tanya dan kami ajak masuk ke mobil yang kami gunakan untuk mengantar jamaah yang tersesat di jalan. Terlihat dari raut muka mereka rasa gembira yang luar biasa setelah sampai ke penginapan mereka. Tentunya pekerjaan ini adalah sangat mulia, yang merupakan bentuk dari sebuah kebaikan, sebagaimana disampaikan oleh baginda Rasul di dalam hadis beliau, “kebaikan itu adalah akhlak yang baik”,
وَعَنْ اَلنَوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَأَلْتُ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَنْ اَلْبِرِّ وَالْإِثْمِ؟ فَقَالَ: اَلْبِرُّ حُسْنُ الْخلقِ, وَالْإِثْمُ مَا حَاكَ فِي صَدْرِكَ, وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ اَلنَّاسُ )أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ(
Dari An-Nawwas bin Sam'an radiallahu 'anhu dari Nabi Shallallahu 'alaihi Wasallam, Beliau bersabda:

Read more...

Ujian dan Cobaan

Ujian dan Cobaan
By; Falhan Attahawi

 

Di dalam sebuah hadis Rasulullah SAW. Bersabda:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ )رواه مسلم)
"Sungguh menakjubkan perkara seorang mukmin. Seluruh perkaranya baik baginya. Tidak ada hal seperti ini kecuali hanya pada orang mukmin. Jika dia mendapatkan kesenangan lantas dia bersyukur, maka hal itu baik baginya. Dan jika dia ditimpa kesulitan lantas dia bersabar, maka hal itu baik baginya." (HR. Muslim)

Read more...

Kebaikan yang Banyak

falhan

Kebaikan yang Banyak

Oleh: Ahmad Falhan, Lc., MA | Dosen STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah

 

Ada banyak kitab hadits yang menuliskan peroses turunya surat al-Kautsar, yaitu riwayat sahabat Anas bin Malik “Suatu ketika Nabi sedang berada di masjid bersama kami, para sahabat melihat beliau tertunduk seperti orang yang sedang tertidur. Kemudian beliau menengadahkan kepala sambil tersenyum lalukami bertanya kepada beliau, “ Apa gerangan yang membuat baginda Rasul tertawa dan tersenyum. Maka Nabi pun berkata, “telah diturunkan kepadaku tadi sebuah surat, lalu beliau membacakanya (surat al-Kautsar). Tahukah kamu apakah itu “al-Kautsar”, para sahabat pun berkata, Allah dan Rasulnya lebih mengetahui hal tersebut. Rasul pun berkata, al-Kautsar itu adalah telaga yang Allah janjikan kepadaku di surga. Di dalamnya terdapat kebaikan yang banyak, jumlah bejana yang ada di sekitarnya sejumlah bintang di langit, Banyak umatku yang mendatangi telaga tersebut, namun ada pula yang dikelurkan dari tempat tersebut, maka aku berkata ya Rabb, ya Rabb sesunggunya mereka adalah umatku, maka Allah berkata, sesunggunya engkau tidak mengetahui apa yang telah mereka lakukan setelah engkau meninggalkan alam dunia”(HR. Abu Daud)

Read more...

NILAI DIRI ANDA DITENTUKAN OLEH : APA YANG ANDA BERIKAN, BUKAN YANG ANDA DAPATKAN.

NILAI DIRI ANDA DITENTUKAN OLEH :

APA YANG ANDA BERIKAN, BUKAN YANG ANDA DAPATKAN.

Oleh : HM Sofwan Jauhari Lc, M.Ag

 

Diantara hal yang paling ditunggu-ditunggu oleh orang tua saat anak-anaknya menjadi murid di sekolah adalah saaat pembagian raport. Sampai-sampai banyak guru yang marah jika wali murid tidak hadir saat pembagian raport. Kebanyakan orang tua menuggu-nunggu laporan dari  sekolah tentang prestasi yang telah dicapai oleh anak-anaknya di sekolah, mereka ingin tahu apa yang bisa didapatkan oleh anak dari pihak guru atau sekolah seperti yang tercermin di dalam raport. Apakah sang anak mendapat nilai yang bagus atau sebaliknya. Orang tua menjadi bangga saat anaknya mendapatkan nilai 8, 9 atau bahkan 10. Saat kita belajar di bangku sekolah atau perguruan tinggi, kebanyakan kita bertanya apa yang bisa saya dapatkan dari sekolah atau kampus tempat saya belajar?. Begitupun saat kita bekerja dan menjadi seorang karyawan di suatu perusahaan, pikiran pertama yang terlintas dalam diri kita adalah, berapa rupiah yang bisa saya dapatkan setiap bulan dari perusahaan tempat saya bekerja. Pikiran untuk mendapatkan sesuatu dari orang lain adalah pikiran wajar kebanyakan manusia di dunia.

Begitu pula ketika kita berbicara mengenai hak dan kewajiban. Sebagai bagian dari anggota masyarakat, kita sering mendapatkan “pelajaran” mengenai hak dan kewajiban. Apakah itu hak dan kewajiban seorang mahasiswa, hak dan kewajiban seorang dosen, hak dan kewajiban seorang karyawan, hak dan kewajiban suami istri ataupun hak dan kewajiban yang lainnya. Kita diajari oleh doktrin-doktrin masyarakat yang ada untuk mendahulukan kata hak dan menomerdua-kan kewajiban. Demikianlah selama ini kita diajari untuk selalu mendapatkan sesuatu dari pihak lain, tetapi jarang sekali kita dididik untuk memberikan sesuatu kepada orang lain. 

Read more...

MENINJAU KEMBALI KEIKUTSERTAAN DALAM GROUP WhatsApp (WA).

tafakkur2

(Sumber Gambar: catatanharian--ku.blogspot.com)

 

MENINJAU KEMBALI KEIKUTSERTAAN

DALAM GROUP  WhatsApp  (WA).

 

Alhamdulillah sekitar 3 hari terakhir ini saya diuji dengan sakit ringan sehingga sempat membuat catatan kecil ini. Sakit bagi diri saya pribadi adalah salah satu nikmat karena Allah swt berkenan memberikan “alarm” kepada saya,  sakit adalah alarm yang mengingatkan bahwa saya pribadi sudah terlalu  banyak dosa,  bukankah Rasulullah saw menjelaskan kalau sakit itu bisa menjadi pelebur dosa bagi seorang mukmin???. Logikanya jika sakit bisa menjadi pelebur dosa, maka hal itu  karena orang yang sakit memang mempunyai banyak dosa. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa saya dengan sakit ringan yang saya alami. Amin.

Sebagian dosa itu (introspkesi saya sendiri) mungkin karena saya banyak menggunakan WA.  Mosok?  Mungkin saja…Wallahu a’lam…  Saya termasuk orang yang banyak di-invite dalam grup WA, bukan yang paling banyak tetapi termasuk yang banyak, saat saya periksa ternyata ada 53 group WA di HP saya yang tidak canggih. Saya memang anti membeli HP yang mahal  (karena gak punya uang buat beli HP yg canggih….). “kejengkelan” saya kadang-kadang ditambahin dengan munculnya iklan di HP yang sering kali membuat kerjaan membaca pesan di WA menjadi sesuatu yang menghabiskan waktu saya. Selain sebagai dosen, saya juga bekerja di 3 perusahaan, mengajar di sekitar 30 majlis ta’lim dan juga sebagai mahasiswa. Belum lagi kesibukan mengurus keluarga dan meningkatkan kesejahteraan melalui usaha dan atau investasi kecil-kecilan untuk menambah rezeki yang halal guna memenuhi kewajiban sebagai seorang suami dan ayah dari 5 orang anak.

Kegalauan saya menggunakan WA bertambah lagi ketika saya melihat emoticon yang dipasang oleh WA telah dinodai dengan gambar-gambar yang mendukung LGBT, seperti gambar dua wanita yang berciuman, keluarga dengan 2 orang ibu tanpa ayah dan lain-lain Naudzu billah min LGBT dan Naudzu billah dari setiap pendukung  LGBT. Mungkin ini sebagian dari dosa saya kepada Allah swt karena saya banyak memakai WA… jelas-jelas WA mendukung hal yang dilaknat olah Allah swt kenapa masih kita dukung??  Apakah kita tidak bisa hidup tanpa WA?? Dahulu tidak ada WA kita fine-fine aja…

Akhirnya saya memutuskan diri untuk mengurangi penggunaan WA. Saya belum sampai berpendapat bahwa WA itu haram (mudah-mudahan pendapat ini tidak menambah dosa saya, siapa tahu Allah mengharamkan penggunaan WA) , tetapi saya tetap benci kepada penguasa WA yang mendukung LGBT. Maka dalam rangka meminimalisir penggunaan WA, saya ingin mewujudkan protes kecil saya atas dukungan penguasa WA terhadap LGBT dengan emoticon yang tidak religius.   Protes saya mungkin tidak berarti sama sekali bagi masyarakat pengguna WA tetapi mudah-mudahan ini melepaskan -setidaknya mengurangi- dosa saya pribadi yang masih menggunakan sarana komunikasi berupa WA yang jelas-jelas mendukung LGBT. Beberapa tindakan saya dalam memprotes  adalah :

Read more...




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia