Inspirasi Ramadhan 2

Inspirasi Ramadhan 2

(Sensitivitas dan Persaudaraan)

By: Ahmad Falhan

Al-Imam al-Qurthubi ketika menafsirkan surat al Hasyr ayat: 9 telah mengikisahkan, bahwa Setelah usai peperangan Yarmuk  (terjadi pada masa Abu bakar al-Shiddiq) yang  dimenangkan oleh umat Islam, ada seorang perajurit muslim, Huzaifah al-‘Adawi berkata,” Setelah usai perang aku bergegas mencari anak pamanku di antara mayat-mayat tentara, kemudian aku menemukanya di antara orang-orang yang terluka dan hampir menemui ajalnya. Kemudian aku dekatkan ke mulutnya air, agar ia minum, akan tetapi belum sempat ia minum, terdengarlah rintihan orang yang terluka, maka anak pamanku pun menyuruh saya untuk memberikan air itu kepadanya. Aku bergegas menemuinya, yang tidak lain adalah Hisyam ibn al-‘Ash. Aku mendekatkaan air tersebut  ke mulutnya, namun belum sempat diminum air tersebut terdegar lagi suara orang yang merintih kehausan. Hisyam mememinta kepadaku untuk memberikan air itu orang tersebut. Setelah aku sampai di tempatnya, aku mendapatinya telah wafat, maka aku kembali posisi Hisyam, namun aku menemukannya telah wafat juga, kemudian aku kembali ke tempat anak pamanku, sungguh sayang diapun telah wafat.

Kisah ini menjelaskan kepada kita, begitu kuatnya persaudaraan para sahabat-sahabat Rasulullah SAW.,  sehingga jiwa dan ragapun rela dikorbankan untuk saudaranya seiman. Generasi terbaik yang pernah ada di muka bumi ini, telah melahirkan sikap dan akhlak yang sangat mulia yang susah untuk dimiliki generasi setelahnya.

Jika kita kaitkan dengan Bulan Suci Ramadhan, sebuah kesempatan bagi kita untuk menguatkan tali persaudaraan, tidak terkecuali orang-orang yang lemah (fakir miskin). Momentum ramadhan mendidik kita untuk merasakan lapar dan dahaga, agar kita ikut merasakan apa yang dirasakan oleh saudara kita yang sedang didera kemiskinan dan kelaparan, dengan demikian akan semakin kuat rasa peduli dan sensivitas kita. Sebagaimana hadis Rasulullah SAW. yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas ra. yang berbunyi:

  كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ، فَلَرَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنْ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ (صحيح البخاري(

Artinya: Rasulullah saw adalah orang yang paling dermawan, dan lebih dermawan lagi saat ramadhan, ketika dijumpai Jibril (as), yang mengunjungi beliau setiap malam dibulan ramadhan, dan mengajarkan beliau saw Alqur’an, maka sungguh Rasulullah saw lebih dermawan dalam berbuat baik daripada angin yang berhembus” [HR. Bukhari]

Generasi awal Islam telah mengajarkan kepada kita totalitas keimanan yang dapat dijadikan tauladan bagi kita semua. Melalui bulan suci ramadhan kita dapat merealisasikannya,  sudah barang tentu pahala yang diraih berlipat-lipat ganda. Betapa indah, bulan yang baik ini, jika diikuti dengan akhlak Rasulullah SAW. dan para sahabat-sahabatnya.

 Wallahu a’lam

Jakarta, 27 Juli 2018

Inspirasi Ramadhan 1

Inspirasi Ramadhan ( Prinsip Keseimbangan)

Oleh : Ahmad Falhan, Lc., MA

Allah SWT. telah berfirman di dalam al-Quran:

الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَى فِي خَلْقِ الرَّحْمَنِ مِنْ تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَى مِنْ فُطُورٍ (3)

Artinya: Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang(QS.al-Mulk: 3)

Di dalam ayat ini Allah telah menjelaskan prinsip keseimbangan dalam ciptaanNya, semuanya berjalan dengan seimbang dan sempurna. Kita tidak dapat membayangkan, jika bintang-bintang di angkasa yang berjuta-juta jumlahnya itu bertabrakan, maka getaran dahsyatnya pun tentu akan dapat memporak porandakan dunia ini. Begitu juga matahari, jika jaraknya terlalu dekat dengan bumi, maka akan terbakar semua apa yang ada di dalamnya.

Maha suci Allah yang telah menciptakan air dan udara sebagai sumber kehidupan di muka bumi, sebagaimana firman Allah dalam al-Quran surat ‘Abasa ayat 24-32

فَلْيَنْظُرِ الْإِنْسَانُ إِلَى طَعَامِهِ (24) أَنَّا صَبَبْنَا الْمَاءَ صَبًّا (25) ثُمَّ شَقَقْنَا الْأَرْضَ شَقًّا (26) فَأَنْبَتْنَا فِيهَا حَبًّا (27) وَعِنَبًا وَقَضْبًا (28) وَزَيْتُونًا وَنَخْلًا (29) وَحَدَائِقَ غُلْبًا (30) وَفَاكِهَةً وَأَبًّا (31) مَتَاعًا لَكُمْ وَلِأَنْعَامِكُمْ (32)

Artinya: Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya, Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit), kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya, lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu, anggur dan sayur-sayuran, zaitun dan kurma, kebun-kebun (yang) lebat, dan buah-buahan serta rumput-rumputan, untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu(QS.‘Abasa: 24-32).

Di antara perinsip keseimbangan itu, pada ayat 24 kita diperintahkan untuk memperhatikan makanan kita, baik dari sisi gizi dan kualitasnya ataupun dari mana kita mendapatkan makanan tersebut (baca: kehalalannya). Makanan-makanan yang baik dan berkualitas akan menentukan keseimbangan hidup seseorang. Makanan-makanan yang halal tersebut akan menjadi darah daging, yang tentunya akan berpengaruh besar terhadap tingkah laku manusia.

Orang-orang yang berserah diri kepada Allah SWT. tidak akan mengizinkan makanan yang haram masuk ke dalam perutnya. Merupakan perinsip keseimbangan pula menjadikan tujuan mengkonsumsi makanan agar dapat beribadah kepada Allah SWT., karena manusia bukanlah seperti hewan yang makan hanya untuk mengenyangkan perutnya. Kita mengkonsumsi makanan tentunya agar tubuh kita sehat dan dapat beribadah kepada  Allah secara total dan sempurna.

          Dengan dicurahkannya air dari langit maka tanah pun menjadi subur, kemudian Allah tumbuhkan berbagai macam biji-bijian, sayuran dan buah-buahan agar dapat kita nikmati. Sebagai bentuk keseimbangan hidup kita,hendaklah manusia selalu bersyukur kepada Allah SWT. yang telah menciptakan kita di jagad raya ini. Jika ada orang yang ingkar kepada Allah, atau tidak melaksanakan perintahnya, sesungguhnya dia telah keluar dari perinsip keseimbangan yang Allah SWT. telah berikan kepadanya, dan telah menyalahi kodratnya sebagai mahluk yang tidak Allah ciptakan, kecuali untuk beribadah kepadaNya.

Diantara inspirasi bulan suci Ramadhan, adalah mendidik dan melatih diri kita, agar selalu dalam prinsip-prinsip keseimbangan, yang mungkin selama sebelas bulan yang lalu kita melupakan prinsip tersebut. Di dalam bulan suci Ramadhan ini jiwa kita kembali diletakkan pada posisi yang tepat dan seimbang, seperti jam dinding yang sudah lama tidak dirawat, perlu diakurkan kembali jarum-jarumnya.

Wallahu a’lam 

Jakarta, 27 Juli 2018

Inspirasi Ramadhan 4

Inspirasi Ramadhan 4 (Persatuan dan Persaudaraan)

Oleh: Ahmad Falhan Attahawi

Dalam kajian gramatikal Bahasa Arab, ada tema tentang kata kerja yang tidak sempurna (al-Fi’lu al-Naqish), atau dengan kata lain kata kerja yang kurang. Kata kerja tersebut lebih popular dengan sebutan “kaana wa akhawatuha”) (كان وأخواتها. Ibnu Malik dalam nazham alfiyahnya mengatakan,

  ………………………….                                  وَذُو تَمَامٍ مَا بِرَفْعٍ يَكْتَفِي 

Saudara-saudara Kaana yang Tam, yaitu setiap yang cukup dengan marfu’nya saja (isimnya)

وَمَا سِوَاهُ نَاقِصٌ وَالْنَّقْصُ في       فَتِىءَ لَيْسَ زَالَ دَائِمَاً قُفِي

Dan saudara kaana selain yg Tam, disebut Naqish. Sedangkan Naqish untuk lafazh “Fati-a”, “Laisa” dan “Zaala” selamanya diikuti/ditetapkan sebagai Naqish.

Kata kerja yang tergabung dalam “kaana wa akhawatuha” disebut tidak sempurna,  karena tidak dapat berdiri sempurna, kecuali harus ditambahkan khabar (yang menjelaskan), agar kalimatnya dapat dipahami oleh lawan bicara (mukhatab). Contohnya, كان محمد جالسا (Muhammad telah duduk).

 Kata jalisan sangat dibutuhkan sebagai khabar kaana,yang berarti duduk,tanpanya maka kalimatnya belum bisa dipahami. Walaupun terkadang ada yang tidak membutuhkan khabar, cukup dengan isimnya saja, contohnya,

فَسُبْحَانَ اللَّهِ حِينَ تُمْسُونَ وَحِينَ تُصْبِحُونَ

Maka bertasbihlah kepada Allah di waktu kamu berada di petang hari dan waktu kamu berada di waktu subuh,

Dari pemaparan singkat di atas, dapat disimpulkan bahwa segala sesuatu yang ada di muka bumi ini, saling membutuhkan antara satu sama lain. Tidak bisa berdiri sendiri, sampai kepada bahasa pun juga demikian. Semakin menjadi berarti,  jika hidup ini saling membantu dan bekerjasama.

Untuk dapat hidup dengan sempurna, semua manusia harus saling membutuhkan satu sama lain. Makanan yang kita makan,  pakaian yang kita pakai,  rumah tempat kita berlindap, tentunya tidak lepas dari peran orang lain. Tidak boleh saling menafikan wujud dan eksistensi, karena hal tersebut sudah menjadi ketentuan Allah SWT. sejak awal penciptaan alam semesta ini. Apalah jadinya bumi ini, jika tidak ada mata hari, udara atau air. Semuanya saling mempunyai keterkaitan.

Saling membutuhkan, sejatinya harus menjadi perenungan yang sangat dalam. Menjadi modal bagi kita untuk selalu mewujudkan persaudaraan dan persatuan.

Allah SWT. telah berfirman di dalam al-Quran,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

Artinya: sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat. (Qs al Hujarat:10)

Dengan persaudaraan yang dibangun atas dasar keimanan, hanya karena Allah SWT., maka akan terwujud persatuan, sebagaimana telah dicontohkan oleh generasi-generasi Islam terdahulu. Dengan persaudaraan dan persatuan yang kuat dapat mencapai kejayaan peradaban Islam di timur dan di barat.

Momentum Ramadhan yang dahsyat ini, dimana rasa persatuan dan persaudaraan ummat diasah siang dan malam, tentunya harus melahirkan kerja-kerja yang luar biasa. Shaf-shaf salat menjadi lebih rapat, berbuka bersama, taraweh bersama, adalah modal yang harus kita terus kapitalisasi, untuk meningkatkan keimanan,  ketakwaan dan persaudaraan, tidak hanya di Bulan Ramadhan, akan tetapi juga di bulan-bulan selanjutnya. Semoga.

Wallahu a’lam

Jakarta, 27 Juli 2018

Inspirasi Ramadhan 5

Inspirasi Ramadhan 5 (Memperioritaskan yang Lebih Penting)

Oleh: Ahmad Falhan

Berlomba dalam kebaikan adalah sikap yang harus dimiliki oleh setiap muslim,  hidup akan menjadi lebih dinamis, jika dibarengi dengan etos kerja yang tinggi namun tetap dalam koridor keimanan dan ketakwaan.

Ramadhan mendidik seorang muslim untuk lebih menghargai waktunya  dan memanfaatkannya dengan efisien. Kita dituntut untuk tidak menyia-nyiakan amal-amal sholeh yang ada di dalam bulan ramadhan. Sekecil apapun amal sholeh itu akan diberi ganjaran yang berlipat ganda. Pelajaran memperioritaskan perkara-perkara yang “lebih penting” dan “penting” harus senantiasa dijaga dalam kehidupan ini.  Seperti halnya perkara wajib, yang Allah lebih perioritaskan dari pada ibadah sunnah. Di bulan ramadhan ini kita begitu antusias mengerjakan ibadah-ibadah sunnah,  yang seyogyanya tidak malah membuat ibadah wajib menjadi terlantar. Sesuai dengan sabda rasulullah dalam Hadis Qudsi, dari Abu Hurairah ra., dia berkata,  Rasulullah SAW. telah bersabda, bahwa sesungguhnya Allah telah berfirman:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيْءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُهُ عَلَيْهِ

Artinya: Dan tidaklah seorang hamba bertaqarrub (mendekatkan diri dengan beribadah) kepada-Ku dengan sesuatu, yang lebih Aku cintai daripada apa yang telah Ku-wajibkan kepadanya(HR. Bukhari)

Tidaklah dinilai baik, jika ada orang yang begitu gigihnya menghidupkan malamnya dengan amalan-amalan sunnah, namun shalat subuhnya tidak dikerjakan pada waktunya. Pelajaran-pelajaran ramdhaniyah ini, betul-betul mewariskan kepada orang-orang yang beriman, untuk mampu menjadi insan-insan yang tangguh dan unggul, Yang tidak hanya memikirkan kualitas isi perut semata, Bahkan dengan pola makan  yang dilatih di bulan ramdhan ini,  dapat menciptakan cara berfikir kita yang lebih berkualitas, kerja yang dinamis, lantaran sudah terdidik dalam menghargai waktu, dan tidak menunda-nunda kebaikan, yang mungkin saja dapat hilang dari pandangan kita.

Ibnu Hisyam di dalam kitab sirahnya telah menceritakan, suatu ketika di zaman Rasulullah SAW., ada tiga orang sahabat beliau yang tidak ikut dalam perang Tabuk, yaitu Ka’b bin Malik ra., Hilal bin Muawiyah ra., murarah bin Rabi’ra..  Tentunya banyak pelajaran penting dan  berharga sekali yang dapat diambil dari kisah ini. Yaitu pelajaran untuk berkata jujur dan tidak menunda-nunda kebaikan.

Diantara ketiga orang itu, adalah Ka’b bin malik ra., sahabat yang masih muda dan energik. Namun karena beliau menunda-nunda persiapan untuk pergi ke Tabuk sampai pada waktunya beliaupun belum bergerak pergi ke Tabuk. Sehingga termasuklah beliau orang-orang yang tidak pergi ke Tabuk, sedangankan beliau tidak memiliki udzur yang dapat menggugurkan kewajibannya.

Di saat Rasulullah dan kaum muslimin kembali ke Madinah, banyak orang-orang yang berudzur dan kaum munafiqun datang kepada baginda rasul, menyampaikan berbagai alasan kepada beliau dengan bersumpah. Diperkirakan mereka yang tidak turut serta bertempur itu, sekitar delapan puluh orang lebih. Rasul pun menerima mereka dan memintakan ampunan Allah untuk mereka, dan menyerahkan apa yang mereka sembunyikan dalam hati mereka kepada Allah.

Lain halnya dengan Ka’b bin Malik ra. dan kedua sahabat Rasul Hilal bin Muawiyah ra., murarah bin Rabi’ ra., yaitu ketika beliau (Ka’b bin Malik) menghadap Rasululullah, beliau dengan jujur mengutarakan perihal ketidak ikut sertaan beliau dalam perang Tabuk, seraya berkata, demi Allah, sesungguhya tidak ada uzur yang membuat saya tidak ikut serta berperang. Demi Allah, saya tidak berdaya sama sekali kala itu meskipun saya mempunyai peluang yang sangat longgar sekali untuk ikut berjuang bersama kaum muslimin. Kemudian Rasulullah SAW. berkata, berdirilah hingga Allah memberimu keputusan. Selang beberapa hari kemudian, Rasulullah melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan ketiga sahabatnya tersebut, kejadian ini berlangsung selama lima puluh malam lamanya,  sampai tiba waktunya, setelah shalat subuh,  di hari yang kelima puluh rasul mengumumkan kepada kaum muslimin, bahwa Allah telah mengampuni mereka, sebagaimana disebutkan di dalam al-Quran surat at-Taubah ayat 118,

وَعَلَى الثَّلَاثَةِ الَّذِينَ خُلِّفُوا حَتَّى إِذَا ضَاقَتْ عَلَيْهِمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ وَضَاقَتْ عَلَيْهِمْ أَنْفُسُهُمْ وَظَنُّوا أَنْ لَا مَلْجَأَ مِنَ اللَّهِ إِلَّا إِلَيْهِ ثُمَّ تَابَ عَلَيْهِمْ لِيَتُوبُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ (118)

Artinya: dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah Yang maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Al-Imam al-Thobari di dalam tafsirnya, Jamiul bayan fii Tafsiri Ayatil Quran mengatakan, bahwa yang dimaksud dengan bumi telah menjadi sempit bagi mereka, yaitu mereka meraskan kesedihan dan penyesalan yang sangat dalam, karena ketidak ikutan mereka dalam jihad di perang Tabuk. Sehingga jiwa mereka terasa sempit karena mendapatkan cobaan dan hukuman yang sangat berat.

Di balik ramadhan, ada banyak faedah dan pelajaran yang harus diambil dan diamalkan, begitu juga kisah-kisah di dalam al-Quran,  ataupun perjalan hidup Nabi Muhammad SAW. dan para sahabatnya. Kisah Ka’b bin malik ra. adalah inspirasi terbesar bagi kita, terutama di bulan Ramadan ini, untuk salalu dalam petunjuk dan bimbingan Allah SWT.

Wallahu a’lam

27 Juli 2018

Inspirasi Ramadhan 3

Inspirasi Ramadhan 3 (Menunggu)

By: Ahmad Falhan

Menunggu, biasanya merupakan pekerjaan yang sangat membosankan. Sesuatu hal yang sebentar, bisa terasa begitu lama dalam menunggu. Banyak orang yang menghindar dari pekerjaan menunggu. Terlebih, jika yang ditunggu itu perkara yang tidak mengenakkan. Namun ada yang menarik ketika kita berada di dalam bulan suci ramadhan,  semua orang antusias untuk menunggu waktu berbuka puasa. Waktu yang sangat sepesial sekali bagi orang-orang yang berpuasa. Ketika adzan maghrib berkumandang, rasa gembira tumpah ruah dalam jiwa kita, berbagai pujian tersemat dalam bibir kita. Maha suci Engkau yaa Allah, yang telah memberikan segala nikmat di seluruh alam semesta ini. Kami bersyukur kepadaMu yang telah memberikan kesempatan untuk beribadah dan taat kepadaMu.

Rasa dahaga dan lapar, semoga menjadi pelebur dosa-dosa kami yang bertumpuk-tumpuk, bagaikan pasir di pantai. Inilah keistimewaan yang dimiliki oleh orang-orang yang beriman. Allah SWT. selalu menyertakan nikmat-nikmatNya di setiap ruang dan waktu, begitu juga dengan kegembiraan kita di saat berbuka puasa, seperti yang telah disabdakan oleh baginda Rasulullah SAW.,

Dalam hadis qudsi Allah Ta’ala berfirman,

للصائم فرحتان، فرحة عند فطره، وفرحة عند لقاء ربه

Bagi orang yang melaksanakan puasa ada dua kebahagiaan; kebahagiaan ketika berbuka, dan kebahagiaan ketika bertemu dengan Rabbnya.” (muttafaq ‘alaihi)

          Kegembiraan kita telah melaksanakan perintah Allah SWT. yang seharusnya tidak ditawar-tawar. Bahkan harus dilengkapi dan disempurnakan, seperti halnya qudwah kita, Nabi Ibrahim as.. Beliau selalu mengerjakan dengan sempurna segala perintah Allah SWT. dan menjauhi segala larangannya. Hal tersebut Allah SWT. nyatakan di dalam al-Quran, surat al-Baqarah ayat 124:

وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ قَالَ  إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لا  يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

Artinya: Dan (ingatlah), ketika  Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan),  lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan  menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya mohon juga) dari  keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang lalim".

Kata “kalimat” di dalam ayat di atas,  artinya adalah perintah dan larangan. Allah telah menguji Nabi Ibrahim dengan dua hal tersebut, yang sejatinya juga seluruh orang-orang yang beriman kepada Allah SWT. mendapatkan ujian yang sama. Ketika Nabi Ibrahim telah menyempurnakannya, maka Allah SWT. menjadikannya sebagi imam (pemimpin) bagi seluruh manusia, namun derajat tersebut tidak pernah akan deberikan kepada orang-orang yang zhalim.

Semoga kegembiraan ketika bertemu Sang Khalik, wujud nyata yang kita dapatkan, tentunya setelah kita lulus dari ujian-ujian yang Allah SWT. berikan kepada kita di muka bumi ini.

Wallahu a’lam

27 Juli 2018

Kekuatan dalam Berbuat dan Berkarya

Kekuatan dalam Berbuat dan Berkarya

Oleh: Ahmad Falhan

Di dalam Al-Quran Allah SWT. berfirman

وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُون وَسَتُرَدُّونَ إِلَى عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya: Dan Katakanlah: "Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (At-taubah:105)

Ayat ini merupakan motivasi bagi kita untuk bekerja dan berbuat, sebagai seorang mukmin, ketika kita dihadapkan dengan berbagai macam masalah, maka kita tidak perlu gentar dan goyah, lantaran sudah mendapatkan mandat dari Allah dan rasulnya. Namun dalam berbuat dan berkarya kita tetap harus berpijak pada beberapa perinsip yang akan menguatkan usaha kita, diantaranya adalah,  pertama, menanamkan cita-cita di dalam diri kita, setiap individu harus mempunyai cita-cita yang harus ia gantungkan setinggi langit, namun tidak lupa bahwa kaki kita tetap berpijak di atas muka bumi. Seorang sahabat Rasulullah SAW.  Hindun RA. pernah berkata ketika sedang bersenda gurau dengan anaknya Muawiyah bin Abi Sufyan, saya melihat bahwa anakku kelak akan menjadi seorang pemimpin besar. Di dalam sebuah syair Al-Mutanabbi pernah berkata :

Read more...




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia