Mewarisi pendidikan Rasulullah SAW.

Created on Tuesday, 12 December 2017

Mewarisi pendidikan Rasulullah SAW.

Oleh: Ahmad Falhan, Lc., MA

falhan

 

Di dalam sebuah hadits  Rasulullah SAW telah bersabda :

إنما بعثت معلما

“Sesungguhnya aku diutus sebagai pendidik dan pengajar ( HR. Abu Daud dan Ibnu Majah)”. Salah satu tugas yang diemban oleh Rasulullah SAW. adalah menjadi pendidik dan pengajar bagi umat ini. Sikap inilah yang harus diwarisi oleh seluruh umat manusia. Merupakan kewajiban kita untuk menjadi pengajar dan pendidik di dalam keluarga, masyarakat ataupun bangsa. Mendidik anak dan keluarga agar dapat menjaga mereka dari kemungkaran, sebagaimana kita selalu berdoa di dalam shalat kita, yang termaktub di dalam al-Quran

ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

Artinya: Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: "Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka" ( QS. Al-Baqarah; 201). 

Kata kami disini tentu bermakna jamaah atau kolektif, bukan indifidu, artinya seorang kepala rumah tangga bertanggung jawab atas keluarganya, seorang pemimpin bertanggung jawab atas bangsanya tidak untuk dirinya sendiri, dalam bahasa yang sederhana mungkin kita dapat katakan “masuk surga bersama-sama”. Merupakan misi utama diutusnya umat Islam sebagai (ummatan wshathan) umat pertengahan,  yang dapat mengajak kepada kebaikan dan mencegah dari pada kemungkaran.

Tentunya mendidik bukanlah perkara gampang, banyak halangan dan rintangan yang kerap menjumpai kita, baik dari dalam diri umat yang dididik ataupun pendidik, yang mungkin tidak selamanya tekad dan niatnya kuat, bisa jadi pasang surut, bahkan para nabi-nabi Allah pun pernah mengalami hal yang sama ketika mengajar dan mendidik kaumnya, sebagaimana halnya Nabi Yunus yang telah dikisahkan di dalam Al-Quran, ketika kaumnya mnedustakan dan menentang dakwaknya, beliau akhirnya meninggalkaan kaumnya, namun Allah memberikan pertolongan kepada beliau dan memerintahkan beliau untuk selalu beristighfar dan bertasbih yang pada saat itu berada di dalam perut ikan. Akhirnya degan kesungguhan taubat beliau, ketika kembali lagi kepada kaumnya, Allah SWT. memberikan keberhasilan yang luar biasa dalam dakwahnya, yaitu semua kaumnya beriman kepada Allah.SWT..

Dengan kesungguhan niat dan tekad niscya Allah akan memberikan kemudahan jalan bagi kita. Coba ingat bagaimana tekad  dan niat Rasulullah SAW. dan para sahabatnya ketika perang Badar yang tidak seimbang jumlahnya. Keberadaan umat Islam pada saat itu bukan untuk berperang, akan tetapi untuk menghadang kafilah dagang Abu Sufyan, untuk meminta hak yang telah dirampas oleh orang-orang Quraisy. Umat Islam pada saat itu berhadapan dengan  pasukan Quraisy yang memang dipersiapkan untuk memerangi umat Islam. Jikalau umat Islam kembali ke Madinah, maka orang- orang yang ada di sana yang hetrogen itu pastilah akan mentertawakan mereka dan akan dicap sebagai pecundang.

Kaum Muhajirin dan Anshar, mereka  berbaiat dan berikrar di hadapan Rasulullah untuk berjihad dan membela agama Allah SWT., di antara mereka ada para pembesar-pembesar sahabat, ada pula Sa’d bin Muadz Ra., pemimpin kaum anshar, yang pernah diriwayatkan bahwa ketika beliau wafat, bergetarlah singgasana Allah (arsy al-Rahman). Di dalam munajat malamnya, ketika Allah memberikan nikmat kepada umat islam berupa rasa kantuk dan tertidur,  Rasulullah tidak henti-hentinya berdoa “ Yaa Allah, jika umat ini dihncurkan, maka tidak akan adalagi  yang menyembah Engkau”. Air mata beliau membasahi pipi dan janggut beliau. Keesokan harinya pada hari pembeda itu Allah SWT. menurunkan pertolongan kepada kaum Muslimin, berupa kesegaran fisik setelah tertidur pada malam harinya dan juga hujan yang membasahi mereka, yang justru sebaliknya bagi orang kafir, mereka tidak bisa tidur dan hujan yang membasahi bumi tersebut menyulitkan kuda-kuda mereka. Allah juga menurunkan para malaikat membantu umat Isalam untuk memenangkan agama Allah SWT..

Kesetiaan para sahabat  dalam membela agama ini tidak luput dari pendidikan yang telah diberikan oleh Rasulullah kepada mereka, lihatlah seorang Umar bin Khathab Ra. setelah hidup bersama baginda Rasulullah SAW. dan mendapatkan pendidikan dari beliau, Umar berubah menjadi sosok pembuat tatanaan yang cerdas dan brilian, negarawan besar yang agung, simbol keadilan yang melambangkan ketegasan dan kerahmatan, luas wawasannya, benar jangkauan pemikirannya, dan jitu firasatnya. Lihatlah Abdullah bin Mas’ud, yang berubah menjadi pendiri madrasah terbesar dalam tafsir (madrasatu al-Iraq) dan juga fiqih Islam, yang mana Abu Hanifah bernisbat kepadanya.

Pendidikan Rasulullah mengalir dalam diri para sahabat beliau, pendidikaan yang penuh dengan kelemah lembutan dan kasih sayang, tidak menyakiti dan menghakimi, mengajak umat manusia dengan contoh dan budi pekerti. Tidak ada yang tidak takjub terhadap akhlak beliau, sebagaimana diungkapkan oleh Sayyidah Aisyah Ra. ketika ditanya mengenai akhlak rasulullah SAW., maka Sayyidah Aisyah Ra. menjawab, akhlak beliau adalah akhak al-Quran, sebagaimana disebutkan di dalam hadits,

فَإِنَّ خُلُقَ نَبِيِّ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ الْقُرْآنَ

Maka sesungguhnya akhlak rasulullah saw. adalah al-Quran (HR. Muslim dan Nasai)  

Suatu ketika di zaman kemarau dan kekeringan, di saat Rasulullah sedang khutbah di masjid nabawi masuk seorang badui meminta Nabi untuk berdoa agar Allah menurunkan hujan, lalu beliau berdoa tanpa memarahi orang badui tersebut. Perlu kita cermati bagaimana cara Rasulullah mendidik umatnya yang selalu melihat kadar pemikiran mereka, Nabi juga mencontohkan kepada kita bahwa sikap seorang pendidik hendaklah penuh dengan keikhlasan dan kasih sayang, bukan dengan kekerasan. Bahkan ketika datang rombongan orang-orang Nasrani Najran ke Madinah dengan tujuan hendak berdialog dengan Rasulullah, mereka masuk  Masjid Nabawi dengan menggunakan baju-baju mentereng mereka berikut perhisaan emas dan perak. Rasulullah memalingkan muka, sehingga mereka pun keluar dari masjid dan bertanya kepada para sahabat, tentang berpalingnya Muhammad dari mereka, maka para sahabat mengatakan, Rasulullah tidak menyukai pakaian kalian, pakailah pakaian  yang dipakai ketika safar. Sikap amarah tidak beliau perlihatkan, yang sebenarnya dapat beliau lakukan di hadapan orang-orang yang angkuh itu. Hanyasanya Allah telah membersihkan hati beliau dari sifat-sifat syaithaniyah yang perlu kita teladani sebagai umat beliau.

Mengajar dan mendidik adalah sikap yang harus kita warisi dari baginda Rasulullah SAW., dengan misi inilah rasulullah mendapatkatan keberhasilan yang tidak pernah dicapai oleh seorang Nabi sekalipun di sepanjang sejarah dan zaman. Kalaulah di zaman Nabi Musa dan Nabi Isa, para pengikut-pengikut beliau selalu meminta dipertunjukkan mukjizat dengan berbagai macam alasan, maka para sahabat Nabi Muhammad SAW., ketika mendapat hidayah, teguhlah keimanan mereka tanpa tergoyahkan, sekali terhujam, maka terhujamlah selama-lamanya, tidak seperti Bani Israil yang selalu ragu dan bertanya-tanya. (wallahu a’lam bil shawab)

                     




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia