Bolehkan Menjalankan Sesuatu Yang Tidak Pernah Dikerjakan Rasululullah saw?

Created on Tuesday, 02 February 2016

 

syrat amal

Bolehkan Menjalankan Sesuatu Yang

Tidak Pernah Dikerjakan Rasululullah saw?

Oleh: M. Sofwan Jauhari, Lc., M.Ag

 

“Hal ini sunnah atau tidak?”;  “Apakah hal ini pernah dikerjakan oleh Rasulullah sw semasa hidupnya?” ;    “ Apakah ada tuntunan dari Rasulullah saw mengenai hal  ini ?”.

Kalimat di atas adalah  contoh-contoh pertanyaan yang sering kita dengarkan dari kalangan awam dan ustadz-ustadz muda yang tidak mendalami ilmu Fiqh. Pertanyaan yang hampir setiap hari kita dengar. Pertanyaan ini berangkat dari niat yang bagus, dan kelihatannya bagus akan tetapi dapat menimbulkan mudlarat.   Saya mengatakan bahwa pertanyaan ini dapat menimbulkan bahaya (mudlarat) karena pada umumnya penanya ingin mengatakan bahwa jika tidak pernah dilaksanakan oleh nabi, maka harus kita tinggalkan. Karena semua yang tidak dikerjakan atau tidak diajarkan oleh nabi  saw maka hal itu tergolong  bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat, haram dan neraka.

Tindakan men-generalisir sesuatu yang tidak pernah dikerjakan oleh nabi sebagai bid’ah adalah kesalahan yang berbahaya, seharusnya seseorang melakukan kajian lebih mendalam terlebih dahulu terhadap syariah Islam secara keseluruhan, barulah dia dapat memutuskan atau menilai bahwa sesuatu itu bid’ah atau tidaknya. Karena klaim sunnah-bid’ah pada saat ini terbukti  menimbulkan  kegaduhan social dan perpecahan ummat Islam, timbulnya rasa fanatisme kelompok hingga takabbur atau sombong menurut hadits, yaitu tidak menerima kebenaran dari orang lain yang bukan kelompoknya.

Saya memiliki beberapa pertanyaan yang ada baiknya anda pikirkan jawabannya secara mendalam ? cobalah untuk  menjawab pertanyaan-pertanyaan  berikut ini :

  1. Apakah Rasulullah saw melakukan / mengajarkan adzan dengan menggunakan pengeras suara?
  2. Apakah ada muadzin dan imam sholat  yang dibayar pada jaman nabi?
  3. Apakah ada pemberian amplop / upah kepada khatib di jaman nabi?
  4. Apakah ada kebiasaan mendatangkan khatib jumat dari luar daerah  di jaman nabi?
  5. Apakah ada adzan jumat 2 kali di jaman nabi?
  6. Adakah shalat qabliyah jumat pada jaman nabi?
  7. Apakah ada pembacaan pengumuman sebelum khutbah jumat di jaman nabi?
  8. Apakah ada ceramah tarawih di jaman nabi?
  9. Adakah ajaran itikaf jamai  seperti yang kita lihat sekarang ini di jaman nabi? Ada panitianya-ada ceramah/tausiahnya- bahkan ada infaq bagi yang beritikaf.
  10. Apakah ada kodifikasi Al-quran, (mengumpulkan Al-Qur’an menjadi satu mushaf seperti yang kita gunakan saat ini) di jaman nabi?
  11. Apakah ada zakat fitrah berbentuk beras atau uang di jaman nabi?
  12. Apakah ada zakat profesi di jaman nabi?
  13. Apakah ada zakat property di jaman nabi?
  14. Apakah ada pemimpin/ pemerintah yang mengkordinir pelaksanaan haji?
  15. Apakah ada pengajian yang dilakukan setiap hari “minggu” (Ahad) pada  jaman nabi?

Hampir setiap ulama akan menjawab pertanyaan diatas dengan jawaban TIDAK ADA. Oleh karena itulah, kita perlu belajar lebih banyak untuk sampai dapat membuat  pertanyaan yang benar dan menjawab atau mendapatkan kesimpulan yang benar.

Itikad masyarakat untuk mengamalkan sunnah memang merupakan sesuatu yang baik, dan harus didukung,  akan tetapi kesalahannya adalah masyarakat ingin mengamalkan sunnah tetapi tidak mau membaca sunnah secara keseluruhan. Mau mengamalkan sunnah tetapi tidak mau membaca kitab-kitab hadits.  Banyak yang tidak tahu bahwa sunnah itu terbagi menjadi 3, yaitu sunnah fi’liiyyah (perbuatan nabi), qauliyyah (sabda nabi) dan taqririyyah (penetapan atau pembiaran dari nabi).  Taqrir (pembiaran) adalah sesuatu yang dilaksanakan oleh sahabat-sahabat nabi tetapi dibiarkan oleh beliau, hal ini merupakan sunnah taqririyyah, sebab jika apa yang dikerjakan oleh sahabat sesat/dosa, nabi tentu akan menegur kemungkaran itu.

Permasalahan berikutnya ketika berbicara tentang sunnah adalah, keterbatasan masyarakat mengenai kitab hadits, banyak yang mengira bahwa sunnah itu adalah yang terdapat dalam sohih Bukhori-Muslim saja, atau yang hanya terdapat dalam kutubus sittah saja,(Sahih Bukhari-Sahih Muslim- Sunan Abu Daud- Sunan Tirmidzi- Sunan Nasai dan Sunan Ibnu Majah)  padahal masih ratusan kitab hadits selain kutubus sittah itu. Banyak juga ustadz yang melihat kitabnya pun beum pernah apalagi membacanya, banyak juga yang membacanya tetapi tidak dibaca secara keseluruhan, bahkan banyak yg belum pernah baca sama sekali karena tidak bisa berbahasa arab. Karena itulah saya mengajak kepada anda, jika ingin menegakkan sunnah dengan benar, bacalah kitab-kitab hadits yang ada, janganmenganggap bahwa di dalam sahih bukhari sudah terdapat semua hadits, karena beliau memiliki hafalan 100.000 hadits, dan yang termuat di dalam kitab Sahih Bukhari baru sekitar 6.000 hadits.

Perlu diketahui bahwa, sebagaimana yang telah dijelaskan ulama Fiqh dari berbagai kalangan,  bahwa dalil untuk menjelaskan suatu hukum di dalam Islam bukan hanya Al-Quran dan hadits saja, bukan berarti mereka menganggap bahwa Al-Quran dan hadits itu tidak sempurna, tetapi kedua dasar itu baru memberikan guidance atau pedoman-pedoman umum, sedangkan kasus yang berkembang di masyarakat itu memang terus berkembang, dan ulama harus melakukan ijtihad.  Tanpa ijtihad,  maka akan banyak pertanyaan yang tidak bisa dijawab. Dan salah satu dasar ijtihad itu adalah Qiyas.    Disamping qiyas juga masih ada Istihsan-istishab-maslahah-syar’u man qablana dan lain-lain.   Qiyas merupakan dasar hokum yang dikenal oleh para ahli fiqh, tetapi banyak orang awam yang menganggap “nyinyir” dengan qiyas, mereka ingin mengatakan bahwa qiyas tidak ada dalam syariah Islam. Dan jika pendapat ini kita benarkan,  maka akan ada masalah besar yang mungkin  akan terjadi, coba kita pikirkan untuk menjawab kasus-kasus yang terjadi di masyarakat :

  1. Bagaimana hukum zakat fitrah dengan menggunakan beras /uang, padahal tidak ada satu hadits pun yang menjelaskan hal ini. Zakat fitrah dalam hadits adalah menggunakan kurma/gandum/tepung?
  2. Apakah hokum narkoba? Bukankah yang diharamkan dalam Al-Quran dan hadits adalah khamr? Bukankah khamr yang ada di jaman nabi itu terbuat dari kurma dan anggur?
  3. Bagaimana jika seseorang menggunakan  property sebagai porto folio investasinya, sehingga dia tidak memiliki kelebihan uang sebanyak satu nishab dalam satu tahun? Karena uangnya telah dibelikan property sebagai investasinya. Apakah ini berarti dia tidak wajib membayar zakat?
  4. Bagaimana hukum uang kertas, perbankan,asuransi, jual beli online dan lain-lain jika ulama tidak boleh berijtihad atau jika mereka harus meninggalkan qiyas?

Pertanyaan-pertanyaan ini saya ajukan bukan untuk membuat keraguan-keraguan baru dalam menjalankan syariah Islam, tetapi saya bermaksud ingin menyadarkan bahwa kita harus memahami perbedaan pendapat ulama’fiqh. Ulama fiqh bukan ulama yang anti terhadap hadits/sunnah, ulama fiqh mendasarkan ijtihad mereka kepada Al-Quran dan Hadits, tetapi perbedaan pendapat itu memang akan selalu ada.

Adalah tidak merupakan suatu kesalahan, jika anda ingin mengamalkan sunnah seperti yang anda ketahui, yang salah adalah ketika anda menghujat pendapat para ulama’ yang berbeda pendapat dengan anda?  Ketika kita menganggap bahwa pendapat kita benar pada suatu saat, cobalah untuk belajar lebih banyak, suatu saat anda akan menemukan bahwa ternyata sebagian pendapat anda tidak benar.

Rasulullah saw bersabda :

صحيح ابن حبان - مخرجا (1/ 289(

«مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَطْلُبُ فِيهِ عِلْمًا، سَلَكَ اللَّهُ بِهِ طَرِيقًا مِنْ طُرُقِ الْجَنَّةِ، وَالْمَلَائِكَةُ تَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ يَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي الْمَاءِ، وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ، كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا  دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا، وَأَوْرَثُوا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ».

Hormatilah ulama, hargailah perbedaan pendapat mereka, anda boleh memilih salah satu pendapat mereka tetapi anda tidak berhak menganggap sesat mereka, anda juga tidak boleh menghakimi pengikutnya sebagai ahli bid’ah-sesat-munafiq dan sebagainya, Perbedaan pendapat bukan berarti permusuhan dan perpecahan.

Ingat pula sabda nabi yang menjadi penutup artikel ini yang menjelaskan bahwa arti SOMBONG adalah : merendahkan orang lain dan tidak menerima kebenaran yang datang dari orang lain :

صحيح مسلم (1/ 93(

«لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ» قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: «إِنَّ اللهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ»

Wallahu a’lam bish shawab.

Penulis : Oleh : M.Sofwan Jauhari; Anggota Dewan Syariah Nasional MUI/ Dosen STIUDI Al-Hikmah Jakarta.  Email : This email address is being protected from spambots. You need JavaScript enabled to view it.   WA : 0818-654-479  (No Call).




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia