Islam dan Nasionalisme

Created on Tuesday, 09 June 2015

falhan

 

Islam dan Nasionalisme

Oleh : Ahmad Falhan, Lc., MA

Muqaddimah

Salah satu problem yang dihadapi umat Islam di tengah-tengah polarisasi budaya dan peradaban dunia adalah masalah “Nasionalisme”dimana hal ini mempunyai hubungan yang erat dengan perang pemikiran (al-ghazwul fikri), propaganda Yahudi dan sekulerisme barat. Maka sepatutnya bagi umat Islam untuk mengetahui bagaimana asal usul timbulnya paham nasionalisme secara istilah dan fakta, tujuan dan unsur-unsur di dalamnya serta bagaimana pandangan Islam mengenai hal tersebut.

Pada dasarnya nasionalisme yang kita tolak adalah

bentuk pendzoliman terhadap bangsa yang kalah atau minoritas, dan juga penghalalan segala cara untuk mencapai tujuan disertai penyingkiran kaum yang lemah. Namun apabila yang dimaksud adalah rasa bangga, cinta serta pengorbanan terhadap bangsa dan Negara maka hal ini adalah fitrah bagi seluruh umat yang dapat diterima oleh Islam sebagai agama universal bagi seluruh alam semesta.

Munculnya Nasionalisme dalam Dunia Islam

Sebenarnya indikasi timbulnya paham nasionalisme di kalangan umat Islam mempunyai kaitan dengan timbulnya gerakan Yahudi Zionisme dan usaha mereka untuk menduduki “Baitul Maqdis” dan tanah Palestina yang pada waktu itu adalah bagian dari kerajaan Turki Utsmani. Gerakan Zionisme Yahudi ini didukung serta dimotori oleh “Masonic ledge” atau yang kita kenal dengan istilah freemasonry yaitu gabungan para orang-orang kaya, pembesar serta pimpinan-pimpinan Yahudi yang bertempat di “Salonik” sebagai pusat perkumpulan mereka.

Maka sebagai propaganda mereka untuk menduduki tanah Palestina, mereka mengutus seorang milioner Yahudi kepada sultan Abdul hamid dengan perantaraan Aarif Bik untuk meminta kesediaan sultan agar mengizinkan mereka masuk tanah Palestina dengan imbalan uang yang tinggi untuk sultan dan Negara. Akan tetapi usaha ini kandas dan sultan Abdul Hamid tidak memberikan izin walaupun banyak intimidasi dari orang-orang Yahudi. Untuk kedua kalinya, datang kepada sultan salah seorang pemimpin mereka Hertzel untuk membeli tanah Palestina dengan harga yang diinginkan Turki, akan tetapi usaha inipun gagal.

Setelah usaha ini gagal mereka pun meminta pertolongan kepada Inggris untuk menimbulkan propaganda baru, yaitu dengan cara memunculkan image bahwasanya Sultan Abdul Hamid bersekutu dengan oaran-orang Arab untuk menghancurkan bangsa Turki dan ternyata  usaha ini berhasil serta dapat mempengaruhi massa pada waktu itu. Salah satu pengaruh dari propaganda ini ialah timbulnya perkumpulan “Jam’iyyatul  ittihad wat turkey” yang banyak menentang kebijaksanaan sultan. Perlu  diketahui bahwa sebenarnya organisasi ini adalah boneka  dari gerakan freemasonry yang membuka pintu pertama bagi kaum Yahudi untuk memasuki Palestina dan menjadi dalang atas runtuhnya Turki Utsmani serta timbulnya nasionalisme Turki, maka tak ayal muncul pulalah nasionalisme Arab sebagai tandingan atas nasionalisme Turki. Sedangkan orang-orang Arab sendiri tidak melihat bahwa yang sebenarnya terjadi adalah pemecah belahan (baca : pengadu dombaan)dalam tubuh umat Islam. Begitulah kronologi munculnya paham nasionalisme di tengah-tengah umat Islam sebagai politik adu domba Yahudi “divided at impera” dengan beberapa tujuan : Menghancurkan khilafah Utsmaniyah, memecah belah  umat Islam, serta menduduki tanah suci Palestina yang kita saksikan sampai pada detik ini, maka dengan hancurnya Turki Utsmani, mudahlah bagi mereka untuk memecah belah umat Islam serta meduduki  Baitul- maqqdis.

Unsur-unsur Pemahaman Nasionalisme

Apakah sebenarnya unsur-unsur dari nasionalisme? Banyak pertentangan yang terjadi diantara penganut paham ini. Namun ada beberapa unsur yang sering kita dengar sebagai senjata mereka untuk mensosialisasikan paham ini yaitu rasialisme, rasisme, bahasa, sejarah persekutuan bersama, tanah dan bangsa. Sebagai salah satu unsur yang dapat kita angkat yaitu unsur bahasa. Apakah bahasa dapat menjadi asas bagi nasionalisme? Menurut mereka, umat yang berbicara dengan satu bahasa mempunyai kesatuan bangsa (al-wihdah al-qaumiyyah), namun hal ini tidak dapat dibenarkan karena banyak fakta yang bertentangan dengan teori ini. Salah satu contohnya adalah Negara Swiss yang rakyatnya terdiri atas satu rumpun akan tetapi mereka berbicara dengan tiga bahasa yang berbeda. Sebut saja bangsa India yang berbicara dengan tiga ratus bahasa yang berbeda satu sama lainnya. Sebagaimana halnya dengan bangsa yang berbicara dengan satu bahasa akan tetapi mereka mempunyai perbedaan dalam berbagai macam dialek, contohnya Amerika dan Inggris yang berbicara dengan satu bahasa akan tetapi mereka adalah bangsa yang berbeda dan tidak disatukan oleh bahasa. Sebagai contoh lagi, pada zaman sekarang bahasa Inggris menjadi bahasa dunia namun dengan demikian apakah seluruh umat menjadi satu bangsa? Tentu tidak.

Jika kita kaji lebih jauh masalah nasionalisme (baca : panatisme kebangsaan) maka akan kita temukan perbedaan yang mendasar anatara paham tersebut dan asas Islam. Paham tersebut selalu membedakan antara manusia yang satu dengan yang lainnya atas dasar kebangsaan yang dianut. Oleh karena itu, nasionalisme mengajarkan penganutnya untuk melihat bangsanya sebagai bangsa yang lebih tinggi derajatnya dari pada bangsa-bangsa yang lain sehingga hal tersebut menumbuhkan sikap aggressive nationalist. Karena pembedaan antara satu kebangsaan tertentu atas kebangsaan yang lain dari aspek peradaban, politik, dan hukum merupakan konsekwensi logis yang tak mungkin dihindari. Dari sini akan lahir sikap pembelaan buta terhadap nilai-nilai sejarah dan fanatisme yang merupakan komponen dasar dari nasionalisme tersebut, serta berkembangnya kecenderungan proudness terhadap paham kebangsaan yang dianut.

Nasionalisme tidak memungkinkan  pengikutsertaan bangsa lain dalam hal kerja sama di bidang-bidang kehidupan dengan menggunakan asas equality, karena yang berperan disini adalah fanatisme buta, kesombongan tanpa mengindahkan asas-asas keadilan dan yang menjadi tujuan pokoknya yaitu mendirikan nasionalist state sebagai ganti atas world state. Kalau nasionalisme sampai menggunakan kaedah universalisme sebagai cara pandangnya, maka yang terjadi adalah terbentuknya kolonialisme dan imperialisme dikarenakan tidak adanya jalan bagi bangsa lain untuk masuk dalam kebangsaan kolonialis dengan tetap menikmati kedudukannya sebagai bangsa yang sejajar. Sebagaimana yang pernah ditulis oleh Hitler dalaam bukunya “My Struggle” bahwasanya yang dapat dijadikan standar umum bagai kemajuan seluruh bangsa-bangsa adalah ilmu, seni, dan penemuan-penemuan (discovery). Ini semua adalah hasil karya umat-umat pilihan yang mempunyai satu ras, dan yang berhak menjadi umat tertinggi adalah suku Aria. Islam menawarkan konsep keadilan dan ketaqwaan yang didasari oleh aqidah, syariah dan akhlak. Sebuah konsep yang menganggap bahwa manusia itu adalah sama dan yang membedakan hanya iman dan taqwa, tanpa ada pendiskriminasian ras dan etnis dalam segala aspek kehidupan untuk mencapai satu tujuan yaitu mendirikan universe state yang menentang paham fanatisme kesukuan. Ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad tidak hanya untuk umat atau daerah tertentu akan tetapi untuk seluruh umat manusia, walaupun Rasul berasal dari bangsa Arab dan diutus di tanah mereka serta kitab yang diturunkan adalah dengan bahasa mereka.

Dalam rentangan sejarah Islam, telah banyak orang-orang Non-Arab yang berkiprah serta mempunyai andil penting dalam masalah keilmuan, keagamaan, politik dan kemasyarakatan di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Namun hal ini tidak sampai menyebabkan terjadinya perpecahan di antara umat Islam, karena yang menjadi tolak ukur adalah keimanan dan ilmu pengetahuan kendati mereka bukan dari golongan  Arab secara umum dan bukan pula dari suku Quraisy secara khusus. Rasulullah sendiri telah memberikan contoh kepada umat manusia dalam mempersatukan orang Arab dengan orang ‘Ajam (baca : non Arab) atas dasar aqidah Islamiyah.

Ketika berada di Madinah, beliau mengikat tali persaudaraan antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar seperti Salman Al-Farisi dengan Abu darda, Kharijah bin Zaid dengan Abu Bakar As-Shiddiq. Begitu pula dengan asas persamaan beliau telah memberikan suri tauladan dalam hal ini, tanpa membedakan antara Arab dan non Arab. Dan Rasul telah mengajarkan kita bahwa seluruh umat Islam mempunyai andil dalam memberikan kontribusi serta membangun masyarakat madani.

Berangkat dari prinsip-prinsip Islam dan kenabian ini maka bermunculan para ulama dan fuqaha dari berbagai macam suku bangsa seperti Imam Abu Hanifah Annu’man, Sibawaihi, Al Biruni, Al Khowarizmi, Ar Razi, Ibnu Sina dengan demikian tidak ada dalih bagi bangsa tertentu untuk bersikap arogan dengan keturunan serta ras mereka, karena yang menjadi tolak ukur di antara manusia adalah ketaqwaan dan seluruh umat Islam mempunyai hak untuk berkiprah demi meninggikan kalimat Allah SWT. Kalaulah orang-orang Barat dan Yahudi menyerukan fanatisme kesukuan di negara-negara Islam, maka seharusnya muncul di kalangan umat Islam, orang-orang yang menyerukan kepada persatuan Islam.

Kenapa tidak? Bukankah Islam adalah agama yang lengkap dan universal yang tidak dimiliki oleh agama lain, sebagaimana termaktub di dalam Al-Quran (QS. Al-Maidah :3). Dengan demikian berarti kita telah bergerak dan merealisasikan makna serta arti yang sebenarnya dari kalimat “la ilaha illallah”. Kalimat yang singkat namun merupakan sebuah asas bagi seluruh kaedah kehidupan. Mudah diucapkan akan tetapi sulit untuk dilaksanakan.        

Pandangan Islam Terhadap Nasionalisme

Sesungguhnya Al_Quran telah menerangkan bahwasanya seluruh manusia itu kembali kepada satu asal yaitu Adam, dan Allah SWT telah menciptakan perbedaan sebagai sunnatullah serta fitrah yang ada pada diri manusia. Pertama, Tuhan menciptakan laki-laki dan wanita (QS. Al-Hujurat : 12). Kedua Tuhan menciptkan nasab, ras dan kabilah (QS. An najm : 45). Tuhan menciptakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan sehingga terjadi keterkaitan antara keduanya. Maka dari itu sebuah kelaziman bagi kita untuk mempertahankan dan menjaga fitrah tersebut sebagai khalifah Allah di muka bumi ini. Begitu pula dengan perbedaan ras ataupun bangsa dimana tujuannya adalah agar terdapat komunitas masyarakat yang mempunyai peradaban, kebudayaan serta ciari khas tersendiri sehingga akan memudahkan kita untuk menjalin tali persaudaraan serta melakukan intraksi social ataupun saling tolong menolong di dalam komunitas tersebut. Adanya polarisasi budaya ini bukanlah alasan untuk berpecah belah, akan tetapi untuk saling memahami antara satu bangsa dengan bangsa lainnya, walaupun terdapat perbedaan. Wacana tadi adalah sunnatullah yang tidak dapat kita tentang. Islam melarang kita untuk keluar dari garis fithrah kita, sebagaimana di dalam hadits disebutkan, ”Bahwa Rasulullah melaknat seorang perempuan meniru sifat laki-laki ataupun sebaliknya, karena hal ini akan berdampak negative bagi keduanya. Begitu pula halnya dengan identitas kebudayaan yang harus kita pertahankan dan kita jaga, namun bukan berarti hal ini berubah menjadi fanatisme buta.

Nasionalisme yang diinginkan Islam adalah nasionalisme pertengahan dengan metode tawazun yang tidak condong kepada sikap fanatisme. Sebaliknya pula Islam melarang kita untuk menghilangkan identitas kebangsaan walaupun kita membuka diri terhadap peradaban lain, sebagaimana hadits Rasulullah SAW., ketika seorang sahabat bertabya : Apa yang dimaksud dengan fanatisme? Apakah ia adalah rasa cinta terhadap bangsa? Rasulullah SAW. Bersabda bahwa sesungguhnya fanatisme itu adalah membiarkan atau menolong bangsanya yang berbuat zolim (HR. Ibnu Majah).

Islam dengan ajarannya yang elastis tidak pernah melarang umatnya untuk bekerja demi bangsa dan negaranya, serta membangun hubungan yang erat di antara mereka dan menyumbangkan segala kemampuan mereka. Bahkan Islam pun menjunjung tinggi hak-hak mereka. Sebagai contoh dalam penyaluran zakat yang harus didahulukan adalah kerabat, keluarga dan bangsa jikalau mereka dalam keadaan fakir kecuali dengan alasan-alasan tertentu mereka tidak mendapatkannya. Begitu pula dengan tanah tumpah darah wajib bagi mereka untuk membela dan mempertahankannya. Sebagimana mereka mempertahankan harkat dan martabat diri mereka dan seluruh negara yang dihuni oleh umat Islam, karena itu adalah tumpah darah mereka yang sudah dipecah belah oleh imperialisme barat semenjak runtuhnya Khilafah Islamiyah dan yang menyatukan kita adalah aqidah walaupun terdapat perbedaan bahasa ataupun kebangsaan.

Perlu kita ingat bahwa ketika Rasulullah SAW. hendak hijrah dari Mekkaah ke Madinah, beliau bersabda: “Sungguh, saya mengetahui engkau (baca : Mekkah)adlah tanah yang kucintai, kalau seandainya kaumku tidak mengeluarkanku niscaya aku tidak akan keluar.

Rasulullah tidak menafikan kecntaannya kepada tanah Mekkah, namun demi perjuangan Islam beliau rela untuk meninggalkannya. Maka itulah nasionalisme yang diinginkan oleh Islam yang tidak mengedepankan bangsa dari pada agama, akan tetapi agamalah yang harus dikedepankan demi terciptanya persatuan umat Islam. Sejarah Islam tidak ditandai dengan kehadiran Abu Lahab, akan tetapi ia dimulai dengan kemunculan Rasulullah SAW.dan para sahabat. Dan kita tidak meng-hukumi dunia dengan paham jahiliyah ataupun propaganda fanatisme kebangsaan, akan tetapi kita harus meng-hukuminya dengan metode robbani  serta syariat Islam yang universal. Wallahu ‘alam bis showab.     

    




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia