Kedekatan Hubungan antara Hawa (Nafsu) dengan al-Hawan (Kehinaan)

Created on Monday, 04 May 2015

nafsu

Sumber Gambar: tommycecakar.blogdetik.com

Kedekatan Hubungan antara Hawa (Nafsu) dengan al-Hawan (Kehinaan)
Oleh: Musyaffa Ahamd Rahim, MA
Dosen STIU Dirosat Islamiyah Al-Hikmah


Para ulama’ berbeda pendapat tentang siapa yang mengucapkan syi’ir ini pertama kali.
Tersebut dalam kitab “Al-Ihathah bi Akhbar Ghirnathah” (Sejarah Granada) karya Lisanuddin Ibnul Khathib (713 – 776 H / 1313 – 1374 M), pada juz 3, hal. 196, bahwa yang pertama kali mengucapan syi’ir ini adalah Muhammad bin Yusuf bin Khalshun.
Sedangkan dalam kitab “At-Tamtsil wal Muhadharah” karya Ats-Tsa`alibi (350 – 429 H / 961 – 1038 M), pada halaman 103, disebutkan bahwa yang pertama kali mengucapkan syi’ir ini adalah Ubaidullah bin Abdullah bin Thahir.
Siapa pun yang pertama kali mengucapkannya, bait syi’ir ini menjelaskan tentang kedekatan hubungan antara اَلْهَوَى (hawa nafsu) dengan اَلْهَوَانُ (kehinaan).
Bait syi’ir ini menjelaskan bahwa hubungan diantara keduanya sangatlah dekat sekali, sebab, pada hakekatnya, اَلْهَوَى (hawa nafsu) berasal dari اَلْهَوَانُ (kehinaan), hanya saja, huruf “nun”-nya tercuri (مَسْرُوْقَةٌ) atau dihilangkan (مَحْذُوْفَةٌ).
Oleh karena itu, siapa saja yang bertemu dengan الهوى dalam arti, memperturutkannya, berarti dia bertemu dengan الهوان (kehinaan).
Riwayat lain, sebagaimana tersebut dalam “Al-Badi` fi Naqdisy-Syi’ri” karya Usamah bin Munqidz (488 – 584 H / 1095 – 1188 M), pada halaman 30, menggambarkannya demikian:
نُوْنُ الْهَوَى مِنَ الْهَوَانِ مَسْرُوْقَةٌ ÷ وَحَلِيْفُ كُلِّ هَوًى حَلِيْفُ هَوَانٍ
Maksudnya, pada hakekatnya, kata الهوى berasal dari kata الهوان, hanya saja huruf “nun”-nya tercuri.
Oleh karena itu, siapa saja yang berkawan dengan hawa nafsu, niscaya ia menjadi kawan هَوَان (kehinaan).
Dalam redaksi yang berbeda, disebutkan pada halaman yang sama (halaman 30):
وَإِذَا هَوِيْتَ فَقَدْ تَعَبَّدَكَ الْهَوَى ÷ فَاخْضَعْ لِإِلْفِكَ كَائِناً مَنْ كَانَا
إِنَّ الْهَوَانَ هُوَ الْهَوَى نَقَصَ اسْمُهُ ÷ فَإِذَا هَوِيْتَ فَقَدْ لَقِيْتَ هَوَانًا
Dan jika engkau menjatuhkan hawa-mu kepada sesuatu, maka sesuatu itu telah memperbudakmu,
Oleh karena itu, tunduklah kepada hawamu itu, apa pun dia
Sesunggunya, al-hawan (kehinaan) itu tidak lain adalah al-hawa, hanya saja ada yang kurang darinya (maksudnya: huruf “nun”-nya hilang).
Karenanya, jika engkau menjatuhkan hawa mu kepada sesuatu, maka engkau bertemu dengan hawanan (kehinaan).
Oleh karena itu, waspadalah kita, jangan sampai kita memperturutkan hawa (nafsu) agar terhindar dari هوان (kehinaan).
Semoga Allah SWT memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada kita agar terhindar dari memperturutkan hawa nafsu, amin.
 
 
 



©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia