IMAM NAWAWI TENTANG FATWA.

Created on Wednesday, 22 April 2015

ulama

IMAM NAWAWI TENTANG FATWA.
Oleh HM Sofwan Jauhari Lc, M.Ag
Dosen STIUDI Al-Hikmah Jakarta.

 

Imam Nawawi (wafat 676 H) dalam kitabnya yang berjudul Adabul fatwa wal mufti wal mustafti menjelaskan bahwa setelah wafatnya Rasulullah saw otoritas fatwa yang diberikan kepada para ulama’, di satu sisi menunjukkan tingginya kedudukan seseorang atau kelompok yang memberikan fatwa, hal itu karena pemegang otoritas fatwa menempati kedudukan yang tinggi di sisi Allah swt, yakni sebagai pewaris nabi dalam kapasitasnya yang berhak memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan terkait masalah-masalah agama. Jika di jaman rasululullah saw pertanyaan-pertanyaan itu dijawab oleh rasulullah saw berdasar wahyu yang diturunkan kepada beliau, maka setelah wafatnya rasulullah saw fatwa itu umumnya diberikan oleh para mufti berdasarkan wahyu yang sudah diturunkan kepada rasulullah saw atau melalui ijtihad para ulama’. Karena adanya kewenangan melakukan ijtihad dalam berfatwa ketika tidak ditemukan wahyu terkait hal tersebut, maka di sisi lain otoritas fatwa bagi ulama‘ ini juga menunjukkan betapa beratnya tanggung jawab yang dipikul oleh seorang mufti.

Oleh karena tanggung jawab yang sangat berat itulah maka banyak diantara Ulama yang tidak berani memberikan fatwa kecuali kondisinya benar-benar kondusif, yakni ketika pihak mufti sudah menemukan jawaban yang tepat, menemukan bahasa yang tepat, mendapatkan cara penyampaian fatwa dan waktu penyampaian fatwa yg tepat. Selain itu pihak mustafti juga sudah berada dalam kondisi siap menerima dan mengamalkan fatwa. Hal yang sangat penting adalah apakah fatwa yang diberikan itu akan membawa maslahat atau justru akan memberikan mudlarat.

Ibnu Masud dan Ibnu ‘Abbas r.a mengatakan : Siapa yang memberikan fatwa atas setiap hal yang ditanyakan kepadanya maka dia adalah majnun (gila). Barangkali ini yang menjadi salah satu hal yang menyebabkan Imam Malik r.a ketika ditanya 50 hal maka beliau tidak menjawab satupun diantara 50 hal yang ditanyakan kepadanya. Sedangkan Imam Syafii ketika diminta berfatwa, maka beliau tidak langsung menjawabnya, sampai beliau yakin manakah yang lebih baik, mendiamkan pertanyaan tersebut ataukah menjawabnya. Wallahu a’lam.




©2010 STIU Dirasat Al Hikmah
Jl. Bangka III A No.25 Pela Mampang, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, Indonesia